Pembangunan jembatan pengganti Way Kali Nuri di Tiyuh Gunung Katun Tanjungan, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), senilai Rp5,1 miliar, mendapat perhatian serius dari Kepalo Tiyuh setempat.
Kepala Tiyuh Gunung Katun Tanjungan Laily mempertanyakan sejumlah bagian dalam pelaksanaan proyek yang dikerjakan CV Krakatau Muda Mandiri tersebut, mulai dari penanganan sisa bangunan jembatan lama, kondisi aliran sungai, hingga material yang digunakan dalam konstruksi.
Menurut Laily, sisa bangunan jembatan lama yang ambrol dinilai belum dibersihkan secara menyeluruh. Material bekas bangunan disebut masih berada di lokasi dan sebagian justru ditimbun menggunakan tanah.
Kondisi tersebut, kata dia, perlu diperiksa kembali karena dikhawatirkan sisa material konstruksi lama dapat muncul kembali dan berpotensi mengganggu bangunan jembatan yang baru.
“Pembersihan sisa bangunan jembatan yang lama menurut saya belum bersih. Masih ada material yang kemudian ditimbun dengan tanah. Kami khawatir nanti sisa bangunan itu muncul dan bisa mengganggu bangunan yang baru,” ujar Laily, Rabu 23 September 2026.
Selain itu, Laily juga mempertanyakan penanganan aliran sungai di sekitar lokasi pembangunan. Ia mengatakan, kawasan tersebut sebelumnya sudah menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan ketika terjadi peningkatan debit air.
Namun, dalam pelaksanaan pekerjaan saat ini, menurutnya terdapat bagian aliran yang justru ditimbun menggunakan tanah.
“Ini yang kami pertanyakan. Sungai yang sebelumnya saja sering banjir, kenapa malah ditimbun dengan tanah? Kalau alirannya semakin sempit atau dangkal, air nantinya lewat mana?” katanya.
Laily juga menyoroti aspek keselamatan masyarakat. Pasalnya, sungai tersebut masih kerap digunakan warga, termasuk anak-anak, untuk bermain dan berenang.
Menurut dia, keberadaan sisa material konstruksi, terutama besi dari bangunan lama, perlu mendapat perhatian agar tidak membahayakan masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai.
“Anak-anak dan masyarakat masih sering menggunakan sungai itu untuk berenang. Kalau masih ada besi-besi sisa bangunan, tentu harus dipastikan tidak membahayakan,” ujarnya.
Selain kondisi lokasi, Laily meminta kualitas material yang digunakan untuk pembangunan jembatan juga diperiksa. Ia menilai kesesuaian material dengan spesifikasi teknis menjadi hal penting karena jembatan tersebut nantinya akan digunakan masyarakat dan dilalui berbagai jenis kendaraan.
“Kami ingin memastikan material yang digunakan memang sesuai dan layak. Jembatan ini akan dipakai masyarakat dan dilalui kendaraan dengan berbagai muatan. Jangan sampai baru beberapa tahun kemudian mengalami kerusakan, lalu persoalannya dikaitkan dengan alam atau kendaraan,” kata Laily.
Karena itu, Laily meminta Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, konsultan pengawas, pihak pelaksana pekerjaan, serta anggota DPRD Provinsi Lampung yang memiliki fungsi pengawasan meminta dapat turun langsung ke lokasi.
Ia berharap pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melihat progres pekerjaan, tetapi juga memastikan kualitas material, konstruksi, penanganan sisa bangunan lama, serta kondisi aliran sungai.
“Kami meminta dinas, konsultan, pihak pelaksana pekerjaan dan anggota dewan kalau memang perlu turun langsung ke lapangan. Tolong dilihat dan dicek benar-benar, karena ini menyangkut kepentingan masyarakat dan anggaran yang tidak sedikit,” tegasnya.
Sementara itu, Kepalo Tiyuh pernah mencoba konfirmasi kepada pihak pelaksana pekerjaan, CV Krakatau Muda Mandiri, untuk meminta penjelasan terkait sejumlah hal yang dipertanyakan tersebut.
Namun, pihak rekanan belum memberikan tanggapan meski telah dihubungi melalui telepon.
Pembangunan jembatan pengganti Way Kali Nuri tersebut memiliki nilai kontrak sekitar Rp5,1 miliar. Laily berharap pelaksanaan proyek dapat berjalan sesuai spesifikasi teknis dan menghasilkan jembatan yang kuat, aman, serta dapat digunakan masyarakat dalam jangka panjang.
