Selisik Buku di Graha Kemahasiswaan Unila/RMOLLampung

Sastrawan asal Lampung, Iswadi Pratama mengaku membaca sajak-sajak Inggit Putria Marga dalam kumpulan “Empedu Tanah” seperti sedang tidak membaca melainkan menyaksikan puisi.

“Puisi Inggit dalam Empedu Tanah dengan cepet mengingatkan saya pada film-film karya Sineas Legendaris asal Rusia, Adrei Tarkovsky yang banyak mempengaruhi para sineas generasi sesudahnya hingga hari ini,” kata Iswadi saat bedah buku di Graha Kemahasiswaa, Universitas Lampung, Sabtu (15/2).

Seperti sebuah film, pesan dan gagasan tidak diberikan melalui ujaran atau pernyataan, melainkan dengan gambar hidup yang seketika bisa membetot emosi dan memaksa untuk memikirkan sesuatu yang tersembunyi di balik gambar.

“Pada sajak Inggit, gambar-gambar itu bahkan berhasil meringkus gagasan besar menjadi citraan yang personal, subjektif dan tentu saja puitik,” ujarnya.

Tambahnya, puisi Inggit tidak mengadirkan semua kelam perempuan secara linier, melainkan lebih seperti sebuah cerita detektif.

“Ia memberikan kita teka-teki, suatu misteri dan dengan cara yang sama ia mendekatkan puisi atau kisahnya kepada pembaca melalui citraan visual dan membiarkan kita seperti sedang duduk di depan layar sebuah bioskop atau televisi. Bukan di hadapan sebuah buku,” kata Iswadi.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here