Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan influenza mendominasi penyakit menular di Provinsi Lampung. Hingga 19 Oktober 2026, sekitar 40 persen kasus tercatat menyerang anak-anak berusia 14 tahun ke bawah.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun pemerintah provinsi, ISPA dan influenza menyumbang sekitar 86 persen dari total kasus penyakit menular di Lampung.
Hal itu disampaikan Jihan dalam konferensi pers di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Senin 19 Oktober 2026.
Tingginya angka kasus penyakit pernapasan tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan kaitannya dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Namun, Jihan menegaskan belum ada bukti epidemiologis yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kedua peristiwa tersebut menjadi penyebab langsung peningkatan kasus ISPA.
“Peningkatan kasus ini sudah berlangsung sejak Maret 2026. Secara spasial, distribusi kasus juga belum menunjukkan korelasi langsung dengan wilayah-wilayah terdampak karhutla,” kata Jihan.
Menurutnya, tren peningkatan kasus telah terpantau sejak Maret 2026, jauh sebelum sejumlah kejadian karhutla yang belakangan menjadi perhatian di Lampung.
Pemprov Lampung juga menerima laporan dari masyarakat dan rumah sakit mengenai bertambahnya pasien dengan keluhan gangguan pernapasan, terutama anak-anak.
Berdasarkan pemetaan wilayah, Lampung Tengah mencatat proporsi kasus tertinggi, yakni mencapai 28,61 persen.
Sementara itu, wilayah yang terdampak karhutla tercatat memiliki proporsi kasus sekitar 7,19 persen.
Perbedaan sebaran tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk tidak terburu-buru mengaitkan peningkatan ISPA dengan kebakaran lahan maupun aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Jihan menyebut, diperlukan kajian lebih lanjut berdasarkan data epidemiologis untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan penyakit pernapasan di Lampung.
Pemprov Lampung pun terus memantau perkembangan kasus, terutama karena anak-anak menjadi kelompok yang cukup banyak tercatat mengalami penyakit tersebut.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala gangguan pernapasan dan menjaga kesehatan, khususnya bagi anak-anak. 
