China kembali menjadi investor asing terbesar di sektor hilirisasi Indonesia sepanjang semester I-2026. Nilai investasinya mencapai Rp103,5 triliun atau hampir separuh dari total Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor hilirisasi yang tercatat sebesar Rp212,8 triliun.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, dominasi investasi China juga terlihat pada kuartal II-2026. Dalam periode tersebut, investasi Negeri Tirai Bambu mencapai Rp63,1 triliun dari total PMA sektor hilirisasi sebesar Rp114,4 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan besarnya investasi yang terus mengalir dari China mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap iklim investasi Indonesia.
"Saya juga baru kembali dari China beberapa waktu yang lalu. Mereka melihat bahwa investasi ke Indonesia ini memang selalu berkembang dan berjalan baik dan menghasilkan return yang baik juga sehingga para investor ini tetap berkomitmen berinvestasi di Indonesia," ujar Rosan dikutip dari RMOL.ID, Jumat 17 Juli 2026.
Menurut Rosan, kepercayaan tersebut merupakan hasil dari upaya pemerintah menjaga dan meningkatkan iklim usaha melalui berbagai kebijakan yang memberikan kepastian bagi investor.
"Ini juga direspons positif oleh para investor, terutama juga dengan adanya peraturan pemerintah yang lebih memberikan kepastian dari terutama segi perizinan," tambahnya.
Selain China, negara lain yang menjadi penyumbang investasi hilirisasi terbesar adalah Singapura dengan nilai investasi Rp65,7 triliun, disusul Jepang Rp8,7 triliun dan Amerika Serikat Rp8,1 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi sektor hilirisasi pada semester I-2026 mencapai Rp300,1 triliun atau tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut berkontribusi 29,7 persen terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp1.010,6 triliun.
Sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan investasi Rp206,5 triliun. Investasi tersebut didominasi industri nikel sebesar Rp71 triliun, bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi dan baja Rp30,2 triliun, pasir silika Rp5,9 triliun, serta komoditas mineral lainnya Rp8,2 triliun.
Di posisi berikutnya, sektor perkebunan dan kehutanan menyumbang investasi Rp54,4 triliun yang ditopang industri kelapa sawit Rp29,5 triliun, kayu log Rp16,3 triliun, karet Rp5 triliun, serta komoditas lainnya Rp3,6 triliun.
Sementara itu, sektor minyak dan gas bumi mencatat investasi Rp35,4 triliun yang terdiri atas investasi minyak Rp26,4 triliun dan gas bumi Rp9 triliun.
Adapun sektor perikanan dan kelautan membukukan realisasi investasi sebesar Rp3,8 triliun yang berasal dari pengembangan komoditas garam, tuna, cakalang, tongkol (TCT), udang, rumput laut, rajungan, dan tilapia.
