Inggit Putria Marga/RMOLLampung
[rmool]

Buku yang berjudul Empedu Tanah karya Inggita Putria Marga membutuhkan 8 tahun untuk menyelesaikannya. Ia mengaku mulai menggarap tahun 2011 hingga 2019.

Inggit menuturkan, selama waktu yang tidak pendek membuatnya berpikir dulu, puisi itu apa?

Lalu ia membaca Chairul Anwar. Puisi adalah sajak yang menjadi sebuah dunia. Kemudian ia renungi arti dunia.

Dalam upaya menciptakan dunia itu ia memilih bentuk narasi atau puisi naratif.

“Ciri-ciri narasi itu memperlihatkan unsur dari tindakan atau perbuatan, disusun berdasarkan urutan waktu, menjawab apa yang terjadi dan terdapat konflik. Nah itu yang saya mainkan, dan eksplorasi,” jelasnya saat Selisik Buku di Graha Kemahasiswaan, Sabtu (15/2) malam di Unila.

Tambahnya, point utama yang ingin ia sampaikan melalui buku ini adalah hubungan-hubungan yang hancur.

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang hubungannya dengan semua hal itu baik, pasti ada satu atau dua atau banyak hal yang hubungannya ada yang hancur.

Entah hubungannya dengan orang tua, dengan anak, dengan Tuhan, dengan alam, dengan dirinya sendiri.

“Pasti ada sisi yang hancur,” jelasnya.

Ia juga berharap memalui bukunya, semoga peristiwa pahit yang ada di buku ini bisa menjadi refleksi pada diri sendiri dan bisa menerimanya dan menjadikan penyembuh untuk diri kita.

“Empedu tanah sendiri adalah nama daerah dari Sumatera Barat untuk tanaman Sambiloto yang rasanya pahit namun bisa digunakan sebagai obat,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here