Lonjakan harga solar di tengah gangguan pasokan energi global membuat negara-negara G7 membuka cadangan strategis mereka.
Kelompok yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang sepakat melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah melalui koordinasi Badan Energi Internasional (IEA).
Pelepasan cadangan tersebut dimulai segera dan berlangsung selama empat bulan. G7 juga memastikan sebagian besar stok diesel akan digelontorkan dalam 20 hari pertama guna merespons tekanan pasokan dan harga bahan bakar.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G7 menyatakan siap membahas pelepasan tambahan apabila kondisi pasar masih membutuhkan pasokan lebih besar.
"Kami akan berkumpul dalam konteks IEA dalam beberapa hari mendatang untuk membahas kemungkinan pelepasan tambahan solar jika diperlukan," demikian pernyataan tersebut, dikutip dari CNBC International, Sabtu (3/10).
Keputusan G7 diambil ketika pasar energi global menghadapi tekanan akibat berbagai gangguan pasokan. Perang di Timur Tengah turut mengganggu aliran energi, sementara serangan terhadap fasilitas minyak Rusia berdampak terhadap pasokan produk olahan.
Tekanan juga terasa di Amerika Serikat. Harga diesel di negara tersebut telah mencapai level rekor pada September dan masih berada di kisaran tinggi.
Kondisi tersebut turut mendorong Washington menekan negara-negara Eropa agar ikut menggelontorkan cadangan diesel mereka. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam kemungkinan pembatasan ekspor diesel AS apabila pasokan tidak segera ditambah.
Namun setelah kesepakatan G7 tercapai, Trump menyatakan AS tidak akan memberlakukan larangan ekspor diesel.
Selain pelepasan cadangan, negara-negara G7 sepakat tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi di antara anggota kelompok tersebut.
G7 juga menyerukan negara-negara produsen untuk tidak menerapkan larangan ekspor yang berpotensi memperburuk tekanan pasokan di pasar energi global.
Langkah terbaru tersebut menjadi bagian dari respons lanjutan terhadap gangguan pasokan energi. Pada Maret 2026, negara-negara anggota IEA sebelumnya telah menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak mentah dan produk olahan.
IEA kemudian ditugaskan mengoordinasikan pelepasan cadangan terbaru sekaligus memantau dampaknya terhadap pasar.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan harga minyak mulai turun setelah keputusan pelepasan cadangan diumumkan. IEA juga masih membuka kemungkinan melepas cadangan tambahan apabila kondisi pasar membutuhkan. 
