23.3 C
Bandar Lampung
Jumat 7 Agustus, 2020 05:36 WIB
Beranda OPINI Pojok Syafarudin Hagia Sophia Hingga Masjid Agung St. Petersburg Soekarno Di Rusia

Hagia Sophia Hingga Masjid Agung St. Petersburg Soekarno Di Rusia

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (26):

Oleh Syafarudin Rahman

USAI salat subuh berjamaah, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial), kembali bertemu dan duduk di sofa panjang berhadapan dibatasi meja ikuti protokol kesehatan jaga jarak.

Kami duduk di balkon yang menghadap ke jalan raya yang sepi, gelap dan embun masih tebal menggigit pori-pori, udara cukup dingin. Milenial menekan tombol power pada remote, tambahkan pencahayaan dan tambah volume speaker laptop.

Meluncurlah lagu religi “Sajadah Panjang” Cipt; Taufik Ismail dan Syam Bimbo, dan dibawakan penyanyi Ariel NOAH. Lagunya sahdu menyentuh kalbu.

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya.

Erdogan Hidupkan Kembali Masjid di Turki, Bung Karno di Rusia, Kamu?

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin, silakan diminum kopi robusta dari Lampung Barat. Pembaca yang kirim bilang khasiatnya insha Alloh bisa menambah imunitas tubuh dan mata on kembali di akhir pekan.

Bung Hatta: Milenial, apa cerita menarik pekan ini?

Syafarudin: Milenial, apa topik yang sebenarnya mau dibahas pekan ini? lagu pembuka dialog kali ini lagu religi Bimbo dibawakan kembali generasi muda Ariel NOAH. milenial . Ada apa dengan sajadah Panjang?

Bung Karno: Milenial, sajadah panjang umumnya di masjid. Anda ini generasi 4.0. kadang sulit dimengerti alias absurd.

Milenial : Maaf dan izin. Santuy aja dulu Proklamator dan Pak Sayafarudin. Akhir pekan mbok ya rileks dulu sejenak, jangan terlalu serius.

Ada berita memilukan dan memalukan dari dalam negeri pekan ini seputar buronan dipelihara kejaksaan dan kepolisian.

Tapi lupakan sejenak itu, kali ini milenial ingin laporkan satu saja berita menarik dari Turki. Saya bacakan yang tertera di monitor.

Salat Jumat pertama (24/07/2020) dilaksanakan di Hagia Sophia, gedung berusia 1.500 tahun yang semula difungsikan berurutan sebagai katedral, masjid, museum, dan akhirnya kembali berfungsi sebagai masjid.

Dengan sambutan “Allahu Akbar” (Tuhan Maha Besar) oleh masyarakat di dalam dan di luar masjid yang mengikuti ibadah pertama dalam 86 tahun terakhir.

Sekitar 1.000 orang dizinkan untuk masuk ke Hagia Sophia termasuk kucing Gli melalui pemeriksaan keamanan, sementara yang lainnya melakukan salat di seputar masjid.

“Muslim sangat senang, semua orang ingin hadir di pembukaan (salat jumat pertama),” kata Gubernur Istanbul Ali Yerlikaya Kamis (23/07/2020).

Pada 1934, di bawah kepemimpinan Presiden Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turki modern sekuler, setelah jatuhnya Ottoman, masjid itu dijadikan museum. Lukisan dan ornamen Kristiani ditutup tirai dengan menggunakan mekanisme khusus selama waktu salat tetapi tetap akan dipajang.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menegaskan bahwa perubahan status Hagia Sophia merupakan urusan internal negara mereka. Pernyataan itu dia sampaikan setelah pengadilan setempat mencabut status museum bangunan yang masuk ke dalam warisan dunia UNESCO itu. Pencabutan Hagia Sophia dari museum memberikan jalan bagi pemerintah Turki untuk mengembalikan bangunan itu menjadi masjid.

“Pengambilan keputusan Hagia Sophia adalah hak negara Turki, bukan yang lain. Ini adalah urusan internal kami,” ujar Erdogan kepada Kriter, Dia menekankan setiap negara harusnya menghormati negaranya, dan menjelaskan mengapa dia mengambil langkah yang menjadi sorotan itu.

Dalam pandangan mantan Wali Kota Istanbul tersebut, perubahan dari masjid menjadi museum pada 1934 merupakan “keputusan menyakitkan buat mereka”.

Dia mengabaikan kritik baik dari dalam negeri maupun luar, dengan menyatakan argumentasi yang mereka sampaikan “tak ada artinya”.

Pada Jumat (10/7/2020), pengadilan tertinggi Turki, Dewan Negara, membatalkan dekrit kabinet yang sudah diterapkan selama 85 tahun terakhir.

Dalam putusan, disebutkan bahwa bangunan itu merupakan milik yayasan yang didirikan oleh Sultan Mehmet II, penakluk Istanbul, yang dipersembahkan sebagai masjid.

Bangunan itu awalnya merupakan katedral di bawah kekuasaan Kekaisaran Bizantium selama berabad-abad, dan kemudian jadi masjid pada 1435.

Bagaimana tanggapan Pak Syafarudin dan Proklamator.

Bung Karno: Turki adalah negara merdeka dan berdaulat. Ya wajar dan seharusnya mereka dan terutama Presiden Erdogan menentukan arah pembangunan mereka sendiri. Tiap negara wajib menghormati urusan dalam negeri negara tetangganya.

Bung Hatta: Bila ada negara luar yang mengkritik Turki, mungkin Pemimpin negara tersebut perlu baca kembali semangat dasa sila Bandung, terutama poin ke-empat hasil KTT Asia Afrika yang berbunyi: (4) Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan negara lain.

Syafarudin: Setuju Proklamator.Tidak ada pelanggaran HAM di sana. Bahkan Kucing Gli, kucing persia khas Turki yang berbulu Indah tetap dibiarkan memasuki masjid.

Sebetulnya langkah Presiden Erdogan menghidupkan kembali masjid dari fungsi museum bukan sesuatu yang baru bahkan Presiden Soekarno pernah usul ke Perdana Menteri Rusia dan disetujui Masjib Blue Mosque di St. Petersburg Rusia yang sempat dijadikan gudang difungsikan kembali menjadi masjid. Mohon milenial bacakan sejarahnya.

Milenial : Maaf dan izin. Saya bacakan sejarahnya cukup panjang.
Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet, Agustus-September 1956. Ada dalam rombongan tersebut puteri Bung Besar Megawati Soekarno Putri masih berusia puluhan tahun.

Imam Besar Masjid Agung St. Petersburg, Zhapar N. Panchaev, menjelaskan usai mengunjungi beberapa pabrik di Leningrad, rombongan Sukarno melanjutkan tur kotanya.

Sewaktu melintasi Trinity Bridge, mata Sukarno terpaku pada bangunan biru berkubah di kejauhan.

“Dalam taksiran Soekarno, bangunan itu jika sebuah masjid, mampu menampung lebih dari 3000 muslim bersembahyang berjamaah,” tulis Tomi Lebang dalam Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia.

Sukarno membatalkan beberapa acara yang sudah dijadwalkan demi mengunjungi bangunan indah itu.

“Pada hari itu pula, para rombongan tamu dari Indonesia mengunjungi masjid lokal,” tulis buku Perjalanan Bung Karno!
Sukarno mendapati kondisi bangunan yang dulunya masjid itu kumuh dan tak terawat.

Pemerintah Uni Soviet menjadikannya gudang peralatan medis sejak Perang Dunia II pecah; sumber lain menyebut alih fungsi terjadi tak lama setelah Revolusi Oktober 1917.

Masjid Agung St. Petersburg yang jadi gudang itu didirikan komunitas muslim St. Petersburg setelah mendapat izin dari Tsar Nicholas II pada 1910 dan diresmikan tiga tahun kemudian.

“Arsiteknya, Nikolai Vasilyevich, memadukan dengan cermat ornamen ketimuran dan mosaik biru turquoise pada kubah, gerbang masjid, menara serta mihrab imamnya.

Tidak heran jika masjid ini lebih terkenal dengan nama Masjid Biru,” tulis Tomi Lebang.

Sebelumnya, muslim di St. Petersburg belum memiliki masjid. “Mereka pun menyewa apartemen untuk digunakan beribadah hingga pembangunan Masjid Agung St. Petersburg pada 1913,” tulis Michael Khodarkovsky dalam Bitter Choices: Loyalty and Betrayal in the Russian Conquest of the North Caucasus.

Sukarno sedih melihat masjid termegah Eropa di luar Turki itu dijadikan gudang.

Dia mengutarakan kesedihannya kepada PM Khruschev saat keduanya kembali bertemu di Moscow beberapa hari kemudian.

“Soekarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya,” ujar Panchaev, sebagaimana dikutip Lebang.

Sekira sepuluh hari usai kunjungannya, utusan Kremlin datang ke masjid itu dan mengatakan bahwa Masjid Agung St. Petersburg boleh difungsikan kembali sebagaimana mestinya.

Meski Sukarno tak pernah membicarakan masjid itu kembali setelah pertemuannya dengan Khruschev, muslim St. Petersburg tak pernah melupakan jasanya dalam memfungsikan kembali masjid agung itu.

Menurut diplomat di KBRI Moscow, M. Aji Surya dalam “Ngabuburit ke Masjid Soekarno di Rusia,” dimuat di travel.kompas.com, muslim St. Petersburg hingga kini tak pernah melupakan jasa Sukarno.

Banyak Muslim setempat menyebut Masjid Agung St. Petersburg dengan Masjid Sukarno.

“Tanpa Sukarno mungkin masjid indah yang didirikan tahun 1910 ini sudah hancur sebagaimana masjid dan gereja lainnya,” ujar imam masjid, Mufti Ja’far Nasibullah, sebagaimana dikutip Surya.

Syafarudin: Jadi Bila kita baca sejarah, jelas bahwa pemikiran dan upaya menghidupkan kembali fungsi masjid itu sudah dilakukan Presiden Sukarno lebih dahulu ketimbang Presiden Erdogan. Beginilah sejatinya seorang pemimpin berkuasa, bukan sibuk bangun politik dinasti dimana anak dan menantu dikatrol atau dikarbit untuk jadi calon walikota.

Milenial : kami milenial juga membaca sejarah bahwa Bung Hatta dan Sjahrir pernah dibuang dan diasingkan Belanda ke pulau Banda, Maluku. Oleh masyarakat muslim di sana sekarang dibangun masjid Moh. Hatta-Sjahrir sebagai bentuk apresiasi masyarakat terhadap jasa pejuang dan pahlawan bangsa. Bila Erdogan Hidupkan Kembali Masjid di Turki, Bung Karno hidupkan masjid di Rusia, Kamu ngapain aja? (ujar Milenial sambil mengangkat majalah TEMPO dengan cpover sampul depan seorang pria kurus berpakaian putih hidung seperti pinokio).

Syafarudin: Maaf milenial dan izin Proklamator. Saya permisi dulu karena akhir pekan ini saya sudah ditunggu join di aplikasi Zoom untuk bahas revisi kurikulum jurusan ilmu pemerintahan bersama tim kecil. Pekan depan kita dialog kembali. Terima kasih. Wassalamualaikum, warrohmatullohi wabarakatuh.

Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan
FISIP Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Kekuasaan Cut Ba Cut Robek Moralitas

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (25): Oleh Syafarudin Rahman USAI saat isya berjamaah, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial), kembali duduk di sofa...

Preman Dari Provinsi Pabrik Permen

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (22): Oleh Syafarudin Rahman PAGI masih gelap dan sepi usai salat subuh, kami berempat seperti biasa berbincang sambil menghirup segarnya oksigen yang...

Koruptor, Antara Diberantas Dan Dirawat

Oleh Syafarudin Rahman KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis 10 daerah provinsi dengan angka korupsi tertinggi sejak lima tahun terakhir, 2014 hingga 2019. Provinsi Lampung menempati...

RUU HIP Ditunda, Penunggang Kandas, Lovers Gagal

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (21): Oleh Syafarudin Rahman  PAGI masih gelap dan berembun usai salat subuh, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial),...
Translate »