23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 04:09 WIB
Beranda OPINI Habis Dwi Fungsi ABRI, Terbitlah Dwi Fungsi Pengusaha

Habis Dwi Fungsi ABRI, Terbitlah Dwi Fungsi Pengusaha

Dialog Imajiner dengan Soekarno-Hatta (16):
Oleh Syafarudin Rahman

LEPAS salat asyar berjemaah di Masjid Alwasi’i yang sepi karena ada kebijakan kuliah online dari rumah menghadapi siaga Covid19, kami berempat (Syafarudin, Bung Karno, Bung Hatta, dan mahasiswa milenial peretas) bergeser duduk di room dialog imajiner.

Milenial peretas segera menyalakan dua laptop yang salah satunya terhubung ke layar monitor 70 inci menempel di dinding.

Milenial memohon izin memulai presentasi Hadis ke-7 dari Kitab Arba’in An- Nawawiyah. Terpampang di monitor power point yang memuat sederet teks huruf arab dan latin.

”Abu Ruqayah berkata Nabi SAW bersabda Agama itu ketulusan nasehat. Kami bertanya untuk siapa?

Beliau bersabda, Untuk Alloh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin dan kaum muslimin”. Hadis ini derajatnya Sahih Muslim, ujar Milenial berkacamata dan rambut hitam ikal.

Syafarudin : Izin Proklamator, dialog kali ini, seperti usul Milenial, kita membahas Hadis ke- 7 dari Kitab Arba’in An- Nawawiyah.

Bung Hatta : Wahai anak muda Milenial, apa isi kandungan hadis ini dan mengapa pula hadis ini yang kita kaji pekan ini?

Milenial : Kandungan hadis ini diantaranya bahwa ketulusan kepada pemimpin itu dilakukan dengan tujuan membantu mereka senantiasa dalam rel kebenaran dengan cara saling mengingatkan atau menasehati mereka dengan lisan maupun tulisan. Nasihat merupakan fardhu kifayah atau kewajiban bersama. Nasihat adalah Islam itu sendiri yang dilkakukan dengan ucapan dan perbuatan.

Bung Karno : Milenial kenapa kita mesti kembali mempelajari Hadis ke-7 ini, apa konteksnya?

Milenial : Gegara serangan Covid-19 menyebabkan terjadi darurat kesehatan, darurat ekonomi, dan terutama darurat seni kepemimpinan dan seni berkomunikasi di semua tingkatan pemerintahan.

Proklamator saat ini dengan kemajuan teknologi sosial media seorang kepala desa bisa memarahi presiden yang suka buat kebijakan memberatkan rakyat, bupati bisa mengumpat menteri desa yang lelet buat regulasi sehingga BLT masyarakat desa terhambat. Gubernur bisa mengeritik balik menteri yang mengajari pemda. Status netizen di sosial media banyakyang mendoakan jelek bagi pemimpin yang antikritik.

Bung Karno : Wow, ngeri sekali, mirip suasananya sebelum saya terapkan sistem Demokrasi Terpimpin. Bung Syafar kenapa ini bisa terjadi di era kalian?

Syafarudin : Izin Proklamator, ini semua multiflier efek dari gerakan Reformasi Mei 1998. Usai Soeharto mundur, maka kami memasuki era transisi dan konsolidasi demokrasi. Terjadi Ledakan partipasi publik atau netizen.

Pasal 1 konstitusi yang telah diamendemen empat kali diterjemahkan para free rider dan komprador dan didukung profesor kampus bahwa dari RT hingga presiden mesti dipilih oleh rakyat meniru demokrasi Amerika.

Arena suksesi pillihan kades, bupati, gubernur, presiden, dewan tiap lima tahun berbiaya makin mahal bukan karena inflasi dan biaya operasional politik tapi juga karena pemilih yang rata-rata miskin mesti dihadiahi sembako dan amplop baru bisa melangkah tenang ke TPS.

Efek Reformasi Mei yang menghilangkan nyawa kritikus Wiji Tukul dan kritikus Munir, selain meminggirkan Dwi Fungsi ABRI di satu sisi, namun di sisi lain malah muncul merebak merata di Nusantara adalah Dwi Fungsi Pengusaha atau Pemilik Modal. Cukong politik yang berafiliasi dengan “Sembilan Naga” inilah yang menjadi shadow state.

Bila di Amerika dikenal istilah ”lobi yahudi” penentu kebijakan, maka di nusantara dikenal istilah “lobi cukong politik”.

Bung Karno : Apakah Bung Syafar selaku akademisi sudah pernah beri saran bagi penguatan bangunan dan harmonisasi kultur serta struktur politik Istana dan Nusantara?

Syafarudin : Sudah sejak periode awal “Presiden Pencitraan ini menjabat, saya sudah menulis di media mengingatkan beberapa poin. Karena semua pemimpin di semua level merasa kuat karena dipilih rakyat langsung, maka buatlah struktur hubungan dan komunikasi yang baik

Yang bisa tetap fokus melayani rakyat pemegang kedaultan yang mereka tersebar di 34 provinsi, 500 kabupaten/kota, 7 pulau besar, dan 15,000 pulau dan 73 ribu desa/kelurahan.

Bung Karno : Bagaimana caranya membuat struktur hubungan dan komunikasi yang baik serta merata di Nusantara?

Syafarudin : lakukanlah desakralisasi menteri dan rapat kabinet di Istana Negara menjadi keluar Jakarta. Menteri diubah sebutannya menjadi Pembantu Presiden Pelayan Rakyat Nomor…(PPPR no…). Nomor disesuaikan dengan urutan menteri.

Kantor Kementerian harus disebar di tujuh pulau besar. Gubernur sebagai kepala daerah dan kepala wilayah mesti diberi nama sebutan Pembantu Presiden Wilayah (PPW) nama provinsi masing-masing. Rapat kabinet bergilir di tujuh pulau besar tidak lagi mesti di Jakarta.

Bung Karno : Apa tujuan dan manfaat gagasan ini?

Syafarudin : Mengurangi ketegangan hubungan menteri dengan empat pihak. Menteri berhubungan dengan gubernur , sesama menteri, menteri dengan presiden, dan menteri dengan rakyat.

Harus diingatkan, para menteri itu meski berjas dan mobil dinas mewah, tetap saja tidak lebih dari sekedar pembantu presiden dan pelayan rakyat. Sebagai pelayan rakyat maka mereka harus ada yang berkantor di luar Jakarta agar tahu kondisi rakyat sebenarnya.

Rapat kabinet di daerah agar pengambilan keputusan menjawab tepat kebutuhan rakyat dan partisipatif. Rapat labinet secara online dari daerah tetap bisa melibatkan 34 provinsi.

Milenial : Izin Proklamator dan Pak Syafar (sambil menunjuk foto layar monitor), inilah sosok “Menteri Segala Urusan”, berani menentang ucapan presiden, ini menteri BKS yang berani buat kebijakan berbeda dengan menteri lain dan juga presiden.

Menteri segala urusan ini murid terakhir Jenderal LBM, ahli intelijen dengan agenda klasik gold, glory dan gospel. Berikut daftar perusahaan keluarganya yang berkongsi dengan salah satu keluarga Istana.

Pembantu presiden ini licin seperti belut, maklum mantan prajurit intelijen. Da tidak muncul tidak lewat jalur dwi fungsi tentara yang sudah terkunci, tapi dia muncul dari jalur dwi fungsi pengusaha “Sembilan Naga”.

Bung Hatta : Adakah mantan elite Istana yang mengingatkan dan menasehati buruknya pola komunikasi pemimpin dan bahaya dwi fungsi pengusaha ini.

Syafarudin :Ada, tapi seperti Bung Hatta pernah nasehati dua presiden terdahuluya tak ada efek siqnifikan. Tapi maklum karena wilayah menasehati dan ikhtiar sudah Bung hatta lakukan, sedangkan wilayah hidayah, hasil, dan berubah, bukan wilayah insan. Mohon milenial bacakan sejarahnya.

Milenial : Bung Hatta tahun 1962 menulis bahwa demokrasi dapat berjalan baik jika ada rasa tanggung jawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik. Kekacauan pengelolaan demokrasi bisa menimbulkan anarki dan bisa muncul kediktatoran.

Prof. Deliar Noer menulis retoris pada Abad 21 adakah pemimpin Indonesia yang bermoral? Jika ada yang perlu diingat dan ditiru oleh pemimpin politik masa kini, mereka harus mencontoh sikap, perbuatan, kebijakan dan reputasi Mohammad Hatta.

Dalam masa Demokrasi Terpimpin Hatta berusaha mendidik masyarakat dengan brosur kecil bernama Demokrasi Kita. Meski Soekarno memberangus brosur tersebut, Hatta tetap tak kunjung henti mengirim surat kepada Soekarno yang berisi anjuran dan nasehat.

Hatta banyak menyampaikan nasehat dan kritik kepada pemerintahan Orde Baru , terutama di bidang ekonomi. Tetapi Hata sekedar mengingatkan penguasa. Dia tidak menggalang massa. Sikap Hatta dalam berpolitik itu jelas berdasarkan akhlak dan moral.

Bung Karno : ehem…ehem uhuk…uhuk (batuk-batuk kecil)

Bung Hatta : (diam membisu, menatap kosong matanya berkaca menahan butiran hangat agar tak jatuh)

Syafarudin : Izin Proklamator, awan semakin redup, sebentar lagi buka puasa. Kami permisi pulang. Pekan depan, dialog lagi. ***

(*) Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Bung Karno: Bantu Tetangga, Tanpa Pencitraan

Dialog Imajiner dengan Soekarno-Hatta (15): Oleh Syafarudin Rahman SEUSAI salat subuh berjemaah di Masjid Almubaligh yang sepi dan hanya berjarak 300 meter dari rumah Dinas Gubernur...

Marah Keliru: “Leadership Under Capacity”

Dialog imajiner dengan Soekarno-Hatta (14): Oleh Syafarudin Rahman  SEUSAI Subuhan berjamaah di Masjid Al-Mubaligh yang sepi dan hanya berjarak 300 meter dari Rumah Dinas Gubernur Provinsi...

Politisi Cai Bucai: KGB, MEOK Dan Raja Olah

Oleh Syafarudin, SSos, MA* ISTILAH yang dilontarkan elite politisi Provinsi Lampung yang duduk di kursi eksekutif senantiasa menarik perhatian publik. Belakangan ini, ada elite yang...
Translate »