PT Gunung Madu Plantations (GMP) menjelaskan tidak ada hubungan hukum dengan Sugar Group Companies (SGC) serta masa dan kapasitas produksi gula GMP.

“Dengan kata lain, PT GMP bukan anak perusahaan atau bagian dari holding company SGC,” ujar Kepala Departemen Service PT GMP Iwan Kurniawan, ST.

Relis Iwan Kurniawan dikirim oleh Public Relation (PR) PR GMP Hapris Jawodo lewat WA pada Kamis (19/3), pukul 23.12 WIB.

Relis tersebut menegaskan hal tersebut terkait pemberitaan Kantor Berita MOLLampung tentang penimbunan gula yang ditemukan Bareskrim Mabes Polri, Rabu (18/3).

Selain menjelaskan tak ada hubungan antara GMP dan SGC, relis itu juga menjelaskan bahwa PT GMP memproduksi gula rata-rata 200 ribu ton pada April hingga Oktober setiap tahun.

“Dengan produksi tersebut, kami memenuhi kebutuhan selama 12 bulan (April – Maret). Sehingga distribusi gula kami per bulan rata-rata 15.000 hingga 20.000 ton,” tulis

Pada saat sidak Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit, Selasa (17/3), GMP hanya memiliki gula yang dapat didistribusikan berupa kemasan karung 50 kg sekitar 13.500 ton.

Sehingga, untuk menjaga stabilitas stok gula di pasar PT GMP melakukan pendistribusian gula kepada para distributor sekitar 5.000 ton per minggu, ujar Iwan Kurniawan dalam relisnya.

“Berdasarkan hal tersebut, stok yang kami miliki hanya mencukupi untuk kebutuhan 2 – 3 minggu ke depan,” tandasnya.

Sebagai informasi tambahan, tulisnya, pada tahun 2020 ini, GMP merencanakan untuk memulai giling gula kembali pada bulan Mei 2020.

Waktu mulai giling agak mundur dibanding tahun tahun sebelumnya (biasanya April) karena faktor cuaca , puasa, dan berbagai pertimbangan lainnya, tutup relisnya.

Sebelumnya,  Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit dan jajaran menjelaskan dalam sidak menemukan 75 hingga 100 ribu ton gula tidak didistribusikan hingga menjadi salah satu penyebab naiknya harga gula.

“Kemarin kita laksanakan sidak ke Lampung. Ada beberapa perusahaan (dari Sugar Group, PT Gunung Madu Platantion) yang memiliki stok besar sekali, kurang lebih 75 ribu sampai 100 ribu ton,” kata Sigit saat mengecek gudang PT Food Tjipinang Jaya, Kramatjati, Jakarta Timur, seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (18/3).

Dengan begitu, pihaknya telah meminta pengusaha agar berkoordinasi dengan pemerintah daerah (Pemda) setempat untuk mendistribusikan gula ke DKI Jakarta. Sehingga harga gula yang saat ini tinggi di pasaran bisa segera turun.

“Dan sepakat mulai hari ini akan dikirimkan kurang lebih 33 ribu ton. Untuk memenuhi stok gula yang ada di Jakarta. Dengan demikin saya harapkan harga akan segera turun,” jelasnya.

Sigit yakin, stok gula nasional tersedia hingga bulan April dan Mei yang akan datang atau bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Dia menegaskan, tidak ada alasan harga gula dipasaran masih tinggi alias tidak turun setelah sidak yang dilakukan oleh pihaknya itu.

“Kita akan telusuri hambatannya ada di mana, apakah di masalah distribusinya ataukah di stoknya yang masih menumpuk yang sengaja disimpan atau masalah ramainya perizinan akan kita cek semua,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here