Erupsi Anak Krakatau Malam Hari, Abu Vulkanik Bergerak ke Pandeglang

Erupsi Anak Krakatau Malam Hari, Abu Vulkanik Bergerak ke Pandeglang
Gunung Anak Krakatau erupsi/dok

Article Header Image Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau bergerak ke arah barat hingga mencakup sebagian wilayah Selat Sunda bagian barat dan Pandeglang, Banten, setelah gunung tersebut mengalami erupsi pada Jumat (9/10/2026) malam.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 yang dilakukan pada pukul 19.00 WIB, sebaran debu vulkanik teridentifikasi dari permukaan hingga ketinggian sekitar 6.000 kaki atau 1,8 kilometer.

Informasi tersebut menjadi perhatian karena sebaran abu vulkanik dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat maupun transportasi di sekitar wilayah terdampak.

Erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan terjadi pada pukul 19.07 WIB pada hari yang sama.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, masyarakat di sekitar kawasan tersebut diminta tetap tenang, tidak panik, dan mengikuti perkembangan situasi melalui sumber resmi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam laporan tertanggal 9 Oktober 2026 menyebut status Gunung Anak Krakatau berada pada Level I atau Normal. Namun, informasi peringatan yang menyertai laporan tersebut juga mencantumkan Level II atau Waspada.

Perbedaan informasi status tersebut perlu dikonfirmasi kepada otoritas terkait agar masyarakat memperoleh keterangan yang akurat.

Dalam imbauannya, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif.

Jika terjadi erupsi, masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti arahan petugas. Apabila hujan abu terjadi, warga disarankan berlindung di dalam ruangan serta menggunakan masker dan kacamata pelindung apabila terpaksa beraktivitas di luar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung juga mengimbau masyarakat memantau pembaruan informasi melalui kanal resmi, termasuk akun Instagram BPBD Lampung.

Informasi mengenai kondisi terkini, sebaran abu, dan perkembangan aktivitas gunung akan diperbarui berdasarkan data resmi yang tersedia.

Masyarakat juga diminta menyaring informasi sebelum membagikannya dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi untuk menghindari kepanikan. Article Image

Editor : Tuti Nur Khomariyah

Kata Kunci


Berita Terkait