32 C
Bandar Lampung
Sabtu 6 Juni, 2020 15:00 WIB
Beranda OPINI Erick Tohir, Antara Jokowi Dan "Harian Republika"

Erick Tohir, Antara Jokowi Dan “Harian Republika”

ERICK Thohir, pemilih Harian Umum Republika, hari ini, Kamis (6/12), menulis opini pendek berjudul : Saya, Republika, dan 212. Tulisan respon banyaknya media yang tidak menyiarkan secara proporsional Reuni Akbar  212.

Sejumlah wartawan senior secara keras menyoroti itu dan melakukan kritik terhadap hal itu. Wartawan senior, Hersubeno Arief, yang sekarang menjadi konsultan politik dan media, menulis : Bunuh Diri Pers Indonesia.

Wartawan senior lainnya, Ilham Bintang yang juga penasehat PWI saking kecewanya sampai menyatakan “rakyat telah mencabut media mainstream dari sanubarinya!”

M Nigara, wartawan senior yang sering memandu acara tinju di stasiun televisi, menulis dalam nada pilu dan nelangsa : Netralitas seperti tersapu gelombang. Keberpihakan menjadi terang-benderang. Fakta di depan mata, bukan lagi berita. Mereka telah mengubah jatidiri kewartawanan menjadi pedagang. Mereka telah mengkhianati kejujuran.
Setiap media, kata Erick, punya kebijakan redaksinya masing-masing yang harus dihormati. Republika memilih menyajikan reuni 212 di halaman satu secara simpatik.

Kebijakan editorial ini diambil karena bagaimanapun yang berkumpul dalam reuni tersebut adalah juga anak bangsa. Patut disyukuri, reuni yang melibatkan massa dalam jumlah besar itu berjalan damai dan tertib.
“Pers Indonesia saat ini bukan lagi pers masa lalu. Institusi pers saat ini memiliki tantangan, pilihan, inovasi, dan dinamika yang sangat berwarna. Masing-masing punya argumentasi untuk memilih dan tidak memilih isu untuk disajikan kepada masyarakat,” tambah Erick.

Pembelaan diri Erick ini ada kaitannya dengan posisinya sebagai Ketua Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf. Jabatan itu membuat dia dalam posisi dilematis.

Di satu sisi, dia pasti sadar bahwa Republika bukanlah sekedar koran biasa. Dia dibangun oleh Habibie sebagai wahana perjuangan umat untuk menyeimbangkan opini.

Selama ini, media di Indonesia, dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tidak bersimpati dengan Islam.
Banyak aktivis yang memilih menjadi wartawan Republika bukan sekedar bekerja, tapi merupakan pilihan idealis, untuk menyuarakan kepentingan umat.

Dengan latar belakang semacam itu, sudah jelas harus dimana posisi Republika

Sebaliknya dengan posisi sebagai ketua timses, Erick pasti harus membela Jokowi-Ma’ruf.
Reuni Akbar Mujahid 212 meski bukan kegiatan politik, publik sudah mahfum kebanyakan yang hadir adalah penentang Jokowi. Mereka hadir berduyun-duyun, meminjam pernyataan Aa Gym, karena hatinya sakit dituding oleh rezim ini dan para pendukungnya sebagai kelompok radikal. Kelompok intoleran, anti-Pancasila, anti-NKRI.

Karena itu, media-media pendukung pemerintah, dalam bahasa Hersubeno Arief, melakukan black out dan framing. Kompas, Media Indonesia milik Surya Paloh, dan Koran Sindo milik Hary Tanoe membuang berita itu ke halaman dalam.

Sebaliknya Republika tidak mungkin melakukan itu. Erick mengalami perlawanan di dalam. Mereka tetap memberitakan di halaman depan. Republika juga memuat artikel foto-foto dalam jumlah cukup besar di halaman dalam.

Sikap Erick dan Republika ini bisa jadi persoalan buat media lain yang sudah telanjur diadili oleh publik.  Mereka pasang badan, sementara Erick bermain dua kaki.

Kompas babak belur dihajar publik. Banyak yang berhenti berlangganan. Ada kabar sahamnya juga anjlok.Karena itulah Erick harus buat penjelasan. Posisinya yang ambigu bisa bikin runyam media-media pendukung Jokowi-Ma’ruf. [***]
Djadjang Nurdjaman
Pemerhati Media dan Ruang Publik


Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Delapan OPD Pemkab Pesawaran MoU Dengan Kejari

  Delapan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Pesawaran jalin Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat.

Tak Ada Pemasukan, Mantan Dosen Curi Handbody Dan Sampo

 Seorang mantan dosen perguruan tinggi swasta di Jakarta tertangkap mencuri ratusan botol handbody dan sampo di lima minimarket...

KPU Gelar Uji Publik Pilkada 2020 Secara Virtual

   Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar uji publik terkait rancangan Peraturan KPU (PKPU) tentang Pilkada Serentak 2020 dalam kondisi...

Bantuan PKH Dan BPNT Di Pekon Sukaraja Semaka Carut Marut

 Carut marut terjadi dalam penyaluran Bantuan Kesejahteraan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)...
Translate »