TAHUN 2015 menjadi titik terendah dalam karir Van Joened sebagai pegawai negeri sipil. Keberaniannya memanipulasi peraturan de gouverneur, semestinya sudah menghantarkannya ke balik terali besi. Bukan malah melenggang turut dalam kontestasi.

April 2017, pasukan pemburu perampok uang negara mengawali penelisikan terhadap kasus merampok honor tim olah anggaran. Berbagai peraturan perundang-undangan pun dicermati. Hasilnya, terjadi kerugian uang rakyat atas keputusan yang dilakukan oleh Van Joened.

Waktu berjalan, angin timbul tenggelam. Ibarat Kerupuk disiram air, kasus Van Joened dingin-hangat. Penyidik melempem. Jelang pemilihan de gouverneur, tim penyelidik perampok uang rakyat, menemukan kesimpulan, ditemukan unsur-unsur tindak pidana korupsi. Setelah itu, ketua tim penyelidik dicopot.

Klik: Mbak Pur Diantara Keangkuhan dan Cinta

Kejadian mencopot ketua tim penyidik, tak lepas dari kecanggihan Van Joened mengolah Mbak Pur. Perempuan berhidung pesek, turun gunung. Dan Van Joened terima beres diatas tempat tidur.

Tiga bulan kemudian, Juni 2017, tim penyidik baru dibentuk. Kesimpulan tetap sama. Ditemukan unsur kerugian rakyat. Bahkan lebih dahsyat lagi, jumlah kerugian bertambah. Rekomendasi pun dibuat. Tragedi berulang. Ketua tim dilengserkan.

Pengaruh olahan Van Joened terhadap Mbak Pur, hingga menjelang September 2019, berbuah keceriaan. Ketua tim baru mengusulkan kepada pimpinan agar kasus Van Joened dihentikan. Pertimbangannya tertuang dalam 48 halaman. Berisi keterangan ahli-ahli hukum yang menegaskan frasa-frasa pendukung, tapi tidak jelas. Tidak ada kaitannya dengan substansi kasus Van Joened.

Akhirnya, September 2019 dibentuk tim penyidik baru. Dan tim ini menegasikan seluruh dalil-dalil yang diusulkan untuk menghentikan kasus Van Joened. Kajian mendalam tim baru ini, sangat terang dan konkrit. Kasus Van Joened ditingkatkan statusnya. Artinya, tinggal satu langkah lagi untuk menetapkan tersangka.

Suhu politik di Kawasan Pabrik Permen membara. Van Joened kembali mengolah Mbak Pur. Turun gunung. Semua diolah sedemikian rupa. Menghambat kasus. Menghambat penetapan tersangka.

Gejolak di masyarakat memuncak. Van Joened kalap. Ditengah pertemuan umum bersama pejabat lintas sektoral, Van Joened tak dapat mengendalikan diri. Emosi. Tempramental.

“Saya tidak pernah korupsi, sepeserpun. Tidak ada korupsi dalam kebijakan itu,” teriak Van Joened lantang.

“Memang banyak pihak yang mempengaruhi penangan kasus ini. Perkara terus berlanjut,” terang juru bicara tim penyidik perampok uang rakyat.

Sebagai Raja Olah, keahlian Van Joened ini, terbukti. Mampu mengolah Mbak Pur yang semula marah hingga birahi. Menggelontorkan uang ratusan miliar untuk menjadikan Joened bertambah gelar Van Joened, de gouverneur.

Van Joened stress. Publik menuntut penyidik agar tak lembek menghadapi olahan kaki tangan Van Joened. Data-data lengkap terkait peningkatan status kasus, terbang kemana-mana. Dokumen tebal itu juga sudah dipegang oleh komisi hukum rumah rakyat di pusat kekuasaan.

Disini Van Joened meningkatkan ilmunya. Mengolah, mengamplas berbagai kunci-kunci penentu yang memiliki hak untuk menetapkan dirinya sebagai tersangka.

Tom Risau, yang sejak dulu terkenal jadi Raja Olah, berhasil membuat Van Joened kepincut. Diminta Van Joened turun tangan. Termasuk membuat legal opinion oleh pengacara ternama, Yuza Mahardika.

Tom Risau tak berhenti. Mengamplas Van Joened hingga licin. Sekaligus menjadi kompor agar  terus melawan. Keponakan Van Joened, Dede Rindu ditugaskan mengolah penyidik yang berasal dari kampung mereka.

Dalam ancaman jadi tersangka kasus menilep uang rakyat, ilmu mengolah JVan oened luntur. Malah balik diolah oleh Tom Risau.

Menu olahan Tom Risau sukses. Bukan hanya mengolah kasus korupsi. Tom Risau meningkatkan permainan. VAn Joened ditenteng-tenteng. Ibarat kerbau dicokok hidung.

Tom Risau yang bisnisnya berjibun kasus, menenteng Van Joened bertemu pengusaha-pengusaha abu-abu. Deni Leukemia, didorong Tom Risau. Van Joened mengeluarkan izin. Hingga Deni Leukemia menjadi pemilik perusahaan pengeruk dasar laut yang bermalasah. Rakyat meminta perusahaan ini dibubarkan. Begitu juga dengan Raja Olah,.. ehh Raja Solar Andes Wiatas. Van Joened memberi peluang, mengolah rencana jalan penghubung lewat laut.

Jika Van Joened merenung, seharusnya dia mampu menemukan sebuah pertanyaan: Kasus dirinya sudah berjalan lima tahun, diolah kanan kiri, hingga diolah Tom Risau, kasusnya terus berlanjut? Dipelihara. Tom Risau memelihara kasus. Sama dengan cara Van Joened mengolah Mbak Pur.

Kini, Van Joened tak berkutik. De gouverneur sangat tergantung dengan Tom Risau. Olahan raja olah mudanya ini, tak tanggung-tanggung. Kantor Kuningan hingga Kebayoran dijual mengkilap ke Van Joened.

Dilain sisi, Van Joened mengolah sumber logistik untuk biaya olahan. De gouverneur membebankan diantaranya kepada sekretaris daerah, biro keuangan, dinas pembangunan jalan. Mereka diperintahkan mengolah uang setoran, hingga barter tanah dan sawah. Lelah, capek. Selama tiga tahun mengolah logisitik untuk para pengolah.

Keberhasilan kaki tangan Van Joened, mengolah sumber logisitik, luar biasa. Uang yang dipungut, melampaui anggaran nilai proyek yang tersedia. Semua digunakan, selain untuk kepentingan pribadi Van Joened, utamanya digunakan untuk mengamankan kasus.

Lantas Van Joened melibatkan penyidik untuk mengolah proyek. Melalui kepala-kepala dinas dan unit pelelangan, orang kepercayaan Van Joened lainnya, Frangko diperintahkan mengeruk dan menampung setoran uang muka proyek. Kegiatan ini sudah dimulai, sebelum Van Joened dilantik jadi de gouverneur.

Bisa jadi, sejenak terlintas, bahwa dirinya selama tiga tahun diolah banyak pihak, Van Joened tersentak. Raja Olah, Merasa diolah. Van Joened berang. Berteriak kencang: “ Waspada. Di Kawasan Pabrik Permen banyak Raja Olah.” Kini, Raja Olah vs Raja Olah. Saling mengintai. Siapa yang lihay?

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here