EPISODE 10 - Van Joened: Judi Golf, Terima Upeti


PROSES penetapan calon bupati-walikota di Provinsi Pabrik Permen (PPP) akhirnya usai. Partai-partai politik memberikan rekomendasi kepada para pembeli perahu. Riuh redam.

Publik ribut. Para calon pun ribut. Lebih ribut lagi, ketika De Gouverneur Van Joened menyerahkan formulir dukungan kepada para pasangan calon. Khususnya di Go-Kart. Dua pasang calon nyatanya hanya menerima form B-2 bodong alias belum lengkap.

Pada acara itu, keributan pun bertambah. Kali ini terkait atribut yang digunakan Van Joened. Pada acara internal partai dan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Go-Kart, Van Joened menggunakan fasilitas kedinasan. Mulai dari mobil hingga pakaian. Lengkap dengan Jengkol di dada.

Komentar pun datang dari berbagai pihak. Sempat tertangkap media. Risdianto, doktor ahli hukum tata negara berkicau. Van Joened melanggar etik! Pengawas pilkada wajib memanggil Van Joened (publik tahu nanti hasilnya hanya ecek-ecek).

Membaca komentar Risdianto, Yuhardin (loyalis Van Joened berwatak Sengkuni) sigap. “Risdianto itu belajar hukum tata negara dimana. Baca buku lagi,” kata Yuhardin. Publik pun mahfum. Kelas Yuhardin memang demikian. Asal njeplak.

Setelah membuat pernyataan di ruang publik dan menshare link ke Van Joened, Ketua Go-kart Bandar Kemaruk ini meminta maaf kepada Risdianto. Ampunnnn.....Merayu Risdianto agar berada dalam satu barisan dengan dirinya. Jadi Sengkuni.

Dari para calon kepala daerah yang diusung Go-Kart, di kawasan Barat menelan dua korban kebohongan Van Joened. Akibat percaya janji Van Joened, satu orang pamongpraja senior meminta pensiun dini. Dan tidak jadi calon. Satunya lagi, istri Ketua Asosiasi Calo Tanah (Van Joened sebelum jadi De Gouvernuer menjabat sekretaris asosiasi ini). Sudah pasang ratusan banner. Bersosialisasi ke masyarakat selama tiga bulan. Hasilnya peh...

Dan korban kebohongan Van Joened lainnya, terjadi di Bandar Kemaruk. Riky nyaris tak bisa maju. Tidak mendapat parpol pelengkap. Tidak dapat wakil. Didetik terahir, ayah Riky gulung tangan. Kutu Sapi yang semula sudah mengembalikan cis, disabot balik dengan angka 10 ember.

Di wilayah Timur, Van Joened takluk. Tidak bisa berkutik dengan Ninik, wakilnya yang juga Ketua Partai Kutu Busuk. “Go-Kart tidak mendukung, kita tinggalkan. Kelengkapan syarat calon kami, tanpa Go-Kart sudah lengkap,” ungkap Ninik dalam rapat internal Kutu Busuk bersama juragan pabrik permen. Hal serupa juga terjadi di wilayah Tengah. Van Joened takluk dengan kehendak pabrik permen yang menempatkan putra direktur pabrik permen sebagai wakil (lelaki yang kencingnya saja belum lurus). Jadi wakil hanya karena cis.

Dinamika yang terjadi dalam penetapan calon bupati-walikota di PPP untuk Go-kart, memang tidak diurus Van Joened. Dia lebih memilih kesibukan ruitinnya. Di lapangan Golf. Mengumpulkan setoran fee proyek. Selain menerima setoran mutasi para abdi praja. Sembari berjudi golf. Aliong Kayu memaparkan jatah upeti Van Joened. Dari proyek dan sogokan jabatan.

Duh, ada yang hampir terlukapan. Pasangan calon yang diusung Go-Kart, semuanya suah menyetor uang survei. Besarannya, mulai dari 100 juta hingga 250 juta. Surveinya? Bodong.