JOENED, setelah melalui beragam kecurangan, utamanya melakukan politik uang, jadilah dia De Gouverneur. Terhitung hari ini, De Gouverneur Van Joened enam bulan lebih menduduki singgasana yang ditinggalkan Ronald.

Selama enam bulan ini, beragam penghargaan diraih Van Joened. Yang ada dalam pikiran lembaga pemberi penghargaan-penghargaan itu, semata Cis. Dan entah apa pula yang ada dibenak Van Joened berkenan menerima penghargaan itu.

Publik sangat mengerti, bahwa Van Joened belum berbuat apa-apa. Tidak patut menerima penghargaan. Sebuah cara keliru dalam membentuk pencitraan diri. Langkah offside dari lingkaran dekat Joened. Menyesatkan.

Pelabuhan laut, pelabuhan udara, jalan tol, wilayah baru, semua peninggalan hasil kerja Ronald. Kawasan pertanian, irigasi pun, buah kerja Ronald.

Janji-janji yang tertuang dalam visi dan misi de gouverneur, belum ada satupun yang dilaksanakan secara konkrit. Bila ada yang dilakukan, tak lebih dari ceremonial hampa. Van Joened lagi demam panggung dengan kekuasaannya.

Van Joened hanya melakukan pencitraan. Menggunakan kekuasaan. Memangkas proyek yang sudah dilelang. Dendam? Tentu. Sebab saat Joened belum memperoleh gelar Van, dia anak buah Ronald. Itu pun atas jasa Mbak Pur.

Klik: Lima Skenario Joened

Kini, suasana di Kawasan Pabrik Permen memanas. Utamanya karena banyak janji-janji yang ditebar Van Joened, tak ada yang ditepati. Ingkar.  Stempel kuat yang melekat di de gouverneur di negeri antah berantah.

Kebiasaan lama. Karakter Van Joened tak berubah. Selalu ingin minta dilayani. Selalu merasa bahwa dirinya diperlukan banyak orang.

“Sejak mahasiswa, sampai sekarang, tidak ada yang berubah dari Van Joened. Malah bertambah jadi,” ungkap Mursidi Asmara.

“Jika punya malu, Van Joened nggak mau menerima penghargaan-penghargaan itu,” sambung Yus Andi.

“Sudahlah Yus, sejak kapan dia punya malu. Kalau dia punya malu, nggak mungkin mau main qq. Seramutan di lapak,” sergah Mursidi.

“Dari dulu memang selalu ingkar. Gua ngalamin juga. Bisanya berbohong dan selalu berbohong. Dan itu terbukti, lihat aja istrinya, anak kecil,” sambung Yus.

“Hahahahaha… Modal bakso sama permen, dapet bini,” kata Mursidi sembari ngeloyor meninggalkan resto di Mall Bumi Kemarau.

Hari berganti minggu, dan berganti bulan. Van Joened disibukkan menyusun perangkat kelengkapan pegawai. Satu persatu kepala dinas diganti. Ada juga yang dipertahankan. Tentu ada yang naik jabatan.

Tim Penilai Jabatan satu persatu menguji para calon kepala dinas. Hasilnya tidak memuaskan . Sosok yang diunggulkan Van Joened, satu persatu tumbang. Masuk ranking 3 dan 4.

“Gua yang jadi de goevernuer. Kalian kan membantu. Kepala dinas itu kan gua yang mau pakai. Jadi sesuaikan dong dengan selera gua,” ujar Van Joened dihadapan Tim Penilai Jabatan.

“Kami mengerti. Kami hanya menyampaikan hasil penilaian. Keputusan ada di de goevernuer,” jawab Prof Dr Abal Abil.

“Ya cobalah dibantu. Itu untuk yang tugasnya ngurus rumah sakit, yang ranking 4 jadikan ranking 1. Dia itu pegawai yang ulet. Dan sudah lama mengabdi disana,” timpal Van Joened.

“Siap. Segera Tim menyesuaikan dengan kehendak de goevernuer. Ada petunjuk lain?” jawab Prof Dr Abal Abil.

Van Joened tak segera menimpali pertanyaan ketua tim penilai. Dia mendongeng tentang kehebatan pergaulannya (dalam hati tim penilai, banyak bener ngedopoknya ini de goevernuer).

“Nah untuk kepala dinas sehat, tetap yang lama ya. Biar gua nggak dibilang menghabisis orangnya Ronald,” pinta Van Joened (dalam hati tim penilai, ini Van Joened mau bohongin kita lagi).

Tim Penilai tahu, bahwa kepala dinas sehat itu, Rey Anna sudah menyetor bingkisan. Melalui orang kepercayaan de gouverneur. Rey menyambangi rumah Supli Alficis. Sama juga dengan yang ngurus rumah orang sakit. Cis dan konsesi proyek.

“Siap Pak. Kami laksanakan. Jika tak ada perintah lain, kami mohon pamit,” jawab Prof Dr Abal Abil, mewakili timnya.

Kog buru-buru. Kita ngopi dulu,” balas Van Joened sembari berteriak memanggil ajudan.

“Siapkan kopi dan kue-kue untuk bapak-bapak ini. Kalau ada tamu, bilang de goevernuer lagi rapat,” perintah Van Joened.

Tak perlu menunggu lama, kopi dan panganan langsung tersaji di meja.

“Ayo… santai aja. Nggak usah sungkan. Gua kan dulu sama seperti kalian,” ujar Van Joened mempersilahkan Prof Dr Abal Abil dan tim agar menikmati hidangan.

“Daerah ini kaya, Cuma dari dulu yang ngurusnya brengsek. Nggak beres,” kicau Van Joened. Nanti kita ubah dengan cepat.

Setelah cukup lama mendengarkan dongeng sang de goevernuer, Prof Dr Abal Abil dan tim mohon diri.

“O ya… mumpung saya ingat. Untuk yang ngurus pendidikan, prosesnya jangan berbelit. Atau saya ambil alih langsung. Pak Zulahli ya nanti kepalanya,” pinta Van Joened sembari berdiri di depan meja kerjanya.

“Siap Pak,” jawab Prof Dr Abal Abil sembari meninggalkan ruangan de goevernuer dan segera menuntaskan permintaan de gouverneur.

Catatan Penulis:
Narasi bersambung De Gouverneur Van Joened hanya sebatas khayal. Menggambarkan sebuah fenomena, betapa dahsyatnya kekuatan uang memporak-porandakan demokrasi dan prilaku manusia di negeri antah-berantah. Bila ada nama-nama yang kebetulan ada, semata-mata itu bukanlah sebuah kesengajaan, hanya kebetulan. Begitu juga tentang isi cerita, bila kebetulan sama dengan peristiwa yang ada, itu juga hanya kebetulan belaka. Tak perlu dipercaya. Hanya kisah di negeri-negeri tak bertuan.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here