Pemanfaatan energi terbarukan mulai mengubah pola kerja petani di kawasan Subak Sembung, Denpasar Utara, Bali. Melalui sistem irigasi berbasis tenaga surya dan mikrohidro, petani kini dapat mengelola pengairan sawah lebih efisien sekaligus menekan biaya operasional.
Teknologi tersebut diterapkan melalui Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak (SIUMA), yang mengintegrasikan kincir air atau mikrohidro dengan panel surya untuk mendukung kebutuhan energi dan pengairan di lahan pertanian seluas 10,26 hektare.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Uma Palak Lestari, Wayan Sukadana (47), mengatakan sistem tersebut membantu petani mengatasi keterbatasan pasokan air, terutama saat musim kemarau.
“Sebelum ada SIUMA, kami sering mengalami keterbatasan pasokan air untuk mengairi sawah, terutama saat musim kemarau. Sekarang, dengan adanya teknologi sensor kelembaban tanah yang didukung listrik dari mikrohidro, kami dapat mengetahui lahan mana yang membutuhkan air dan mana yang sudah cukup. Dengan begitu, penggunaan air menjadi lebih tepat sasaran, efisien, dan tidak terbuang sia-sia,” kata Wayan dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu malam (31/10/2026).
Selain membantu pengairan, energi yang dihasilkan SIUMA juga dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha tani dan penerangan di kawasan persawahan.
Perubahan juga terlihat pada penggunaan alat pertanian. Jika sebelumnya petani mengandalkan traktor diesel untuk mengolah lahan, kini mereka mulai menggunakan traktor listrik berbaterai yang dapat diisi ulang dengan energi surya dan mikrohidro.
Pemanfaatan energi bersih tersebut mengurangi ketergantungan pada bahan bakar sekaligus memungkinkan petani mengisi daya peralatan secara mandiri tanpa tambahan biaya listrik.
Dukungan bagi kelompok tani juga diperluas hingga tahap pascapanen. Dalam rangkaian kunjungan delegasi ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE), Pertamina menyerahkan bantuan mesin giling padi elektrik berkapasitas hingga 200 kilogram per jam kepada kelompok tani setempat.
Mesin tersebut diharapkan mempermudah pengolahan gabah menjadi beras, meningkatkan efisiensi produksi, serta memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian.
Saat ini, kawasan Subak Sembung dikelola oleh 185 petani dan memberikan dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga sekitar. Melalui kegiatan pertanian dan pariwisata, KUB bersama petani lokal mampu menghasilkan pendapatan lebih dari Rp585 juta per tahun.
Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan adalah beras Mentik Susu, varietas premium yang dipasarkan dengan nilai jual lebih tinggi di segmen tertentu.
Kawasan tersebut juga berkembang menjadi destinasi aktivitas masyarakat. Jalur joging sepanjang 2,4 kilometer membentang di tengah persawahan, dilengkapi 43 titik lampu penerangan otomatis yang ditenagai SIUMA.
Keberadaan fasilitas itu memungkinkan masyarakat berolahraga dan beraktivitas hingga malam hari. Kegiatan tersebut turut membuka peluang ekonomi tambahan, termasuk melalui penjualan sayuran segar langsung dari petani.
Pengembangan Uma Palak Lestari menarik perhatian delegasi ASCOPE yang berkunjung langsung ke kawasan Desa Energi Berdikari (DEB) tersebut. Para delegasi melihat penerapan energi bersih yang dipadukan dengan penguatan produktivitas pertanian dan ekonomi masyarakat.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, mengatakan model pemberdayaan masyarakat di Uma Palak Lestari mendapat respons positif dari delegasi ASCOPE. Bahkan, sejumlah delegasi tertarik mempelajari konsep pengelolaan dan potensi pendapatan petani.
“Dari testimoni para delegasi, mereka menyampaikan belum pernah melihat model pengelolaan community involvement and development seperti ini sebelumnya. Bahkan, delegasi dari Timor Leste secara khusus menanyakan konsep detail dan potensi pendapatan petani untuk dipelajari,” ujar Arya.
Program Uma Palak Lestari merupakan bagian dari inisiatif Desa Energi Berdikari yang dikembangkan Pertamina. Program ini mendorong pemanfaatan energi terbarukan sesuai kebutuhan dan potensi lokal untuk menunjang kegiatan produktif masyarakat.
Secara nasional, Pertamina telah mengembangkan 310 titik Desa Energi Berdikari di berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 62 desa di antaranya telah mencapai tahap mandiri setelah menjalani pendampingan selama sekitar tiga hingga lima tahun.
Pertamina menyebut pengembangan program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan energi bersih sekaligus memperkuat kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. 
