23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 04:25 WIB
Beranda DAERAH Empat Tahun Tak Mudik, Mahasiswa Jalan Kaki Jakarta-Bima

Empat Tahun Tak Mudik, Mahasiswa Jalan Kaki Jakarta-Bima

Kesepian dan kerinduan terhadap kampung halaman yang begitu kuat membuat Sarjan (21) nekat berjalan kaki dari Jakarta ke kampung halamannya di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pemuda asal Desa Rato, Kecamatan Parado, itu berangkat dari rumah kosnya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pada 26 April 2020. Mahasiswa UIN Syarief Hidayatullah ini mengaku menetap sendirian di rumah kosnya.

Rekan-rekannya, satu per satu, pulang ke kampung halaman masing-masing. Kesepian, Sarjan memutuskan untuk pulang kampung. Apalagi, terakhir kali dia melihat langsung kampung halamannya empat tahun lalu.

“Bosan juga sudah hampir dua bulan di kosan mulu. Saya juga sudah empat tahunan nggak pulang,” tutur Sarjan kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (13/5).

Sejak kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, seluruh moda transportasi darat, laut, dan udara dilarang beroperasi.

Namun mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarief Hidayatullah menganggap hal itu bukan halangan.

Berjalan kaki seorang diri dari Ciputat, tujuan awal Sarjan adalah pelabuhan penyeberangan Ketapang Banyuwangi, Jawa Timur.

Sesampainya di Pamanukan Subang, Sarjan bertemu tiga orang pemuda yang bernasib sama.

Mereka juga terpaksa berjalan kaki untuk pulang ke kampung halaman. Sarjan mengatakan, tiga pemuda itu berasal dari daerah yang berbeda-beda.

Namun, kampung halaman mereka semuanya berada di wilayah Jawa Tengah.

“Kalau dari Ciputat saya sendiri. Pas di Subang (Pamanukan, perbatasan Indramayu) bareng tiga orang yang kena PHK. Ya sudah jalan bareng mereka bertiga. Ada yang ke Solo, ada Surakarta, sama Cilacap. Nah, mereka pada turun di Jawa Tengah semua. Ya sudah saya jalan sendiri ke Jawa Timur (Banyuwangi),” ungkap Sarjan.

Sepanjang perjalanan menuju Solo, ia bersama tiga pemuda yang kena PHK itu sesekali menepi untuk makan, mandi, dan beristirahat mengisi stamina di emperan toko.

“Saya nginep di pinggir jalan. Kan ada warung kalau malem pada tutup, kita nginep di bale-balenya itu, di gubuk-gubuk. Ya pokoknya kalau sudah jam 10 malam waktunya istirahat, ya kita tidur,” tutur Sarjan.

Singkat cerita, Sarjan dan tiga pemuda itu berpisah di Solo. Dia pun melanjutkan perjalanannya seorang diri menuju Banyuwangi.

Sesampainya di Banyuwangi, ia ikut menumpang di truk barang agar bisa menyeberang ke Bali. Kemudian dilanjutkan ke Lombok.

“Saya numpang truk barang kebetulan nggak ada keneknya. Saya numpang, tapi bayar sih. Dari Bali jalan kaki ke Lombok. Nanti dari Lombok ke Bima,” kata Sarjan.

Saat ini, Sarjan masih berada di Kota Lombok setelah menempuh perjalanan kurang lebih 17 hari dari Jakarta. Masih butuh waktu sekitar 2 sampai 3 hari lagi untuk sampai ke kampung halamannya di Kota Bima.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Organisasi Pers Desak Kapekon Sukaraja Minta Maaf, Atau Mundur!

 Dugaan pelecehan terhadap media online oleh Boymin selaku Kepala Pekon (Kapekon) Sukaraja Kecamatan Semaka, menuai kecaman beberapa organisasi...

“Garang” Di Medsos, Abu Janda Tak Muncul Dipanggil Bareskrim

Permadi Arya atau Abu Janda mungkin hanya kelihatan garang di sosial media. Dipanggil Bareskrim Polri terkait ujaran kebencian dan penistaan agama, batang hidungnya tak...

Rumah Ibadah Boleh Dibuka Di Masa New Normal Versi Kemenag

 Rencana pemerintah pusat untuk mengembalikan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat kembali normal dalam bingkai tatanan kehidupan baru atau...

New Normal Atau Norma Baru?

Oleh Dr. Andi Desfiandi, SE,. MA PEMERINTAH merencanakan penerapan new normal atau "kenormalan baru", yakni "pelonggaran" daerah zona hijau dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Secara bertahap...
Translate »