Musim hujan di Lampung tahun ini bakal datang lebih lambat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian wilayah bahkan baru memasuki musim hujan pada Januari 2027.
Mundurnya musim hujan 2026/2027 tak terlepas dari pengaruh El Nino yang masih sangat kuat. Kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga ikut membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih sulit.
Prakirawan Meteorologi dan Geofisika (PMG) Muda Stasiun Klimatologi Kelas II Lampung Didi Ardino mengatakan, datangnya musim hujan tidak akan berlangsung serentak di seluruh wilayah Lampung.
"Rata-rata karena adanya efek El Nino mengakibatkan awal musim hujan di seluruh wilayah Provinsi Lampung mengalami mundur," kata Didi dalam siaran pers, Rabu, 30 September 2026.
Lampung sendiri terbagi menjadi 12 Zona Musim (ZOM). Dari jumlah itu, lima ZOM diprakirakan mengalami kemunduran awal musim hujan sekitar dua dasarian atau sekitar 20 hari dibandingkan kondisi normal.
Sementara tujuh ZOM lainnya mengalami kemunduran lebih panjang, yakni lebih dari tiga dasarian atau sekitar satu bulan.
BMKG mencatat, berdasarkan analisis dinamika atmosfer dasarian II September 2026, indeks Nino 3.4 berada di angka positif 2,97.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Lampung Indra Purna mengatakan, angka tersebut menunjukkan El Nino masih berada pada kategori sangat kuat.
"Untuk wilayah Nino 3.4 yang memengaruhi musim kemarau atau kondisi kering di wilayah kita, pada dasarian II September menunjukkan nilai positif 2,97. Artinya, indeks Nino masih cukup kuat, bahkan sangat kuat," kata Indra.
Pengaruh El Nino tersebut diprakirakan belum akan hilang dalam waktu dekat. BMKG memperkirakan fenomena itu masih bertahan hingga awal 2027.
Meski demikian, tidak semua daerah harus menunggu hingga akhir tahun. Sejumlah wilayah Lampung Barat dan Pesisir Barat diprediksi menjadi daerah yang lebih dahulu memasuki musim hujan, yakni mulai Oktober 2026.
Hujan kemudian bergerak secara bertahap ke wilayah lainnya.
Pada dasarian II November, awal musim hujan diprakirakan mulai terjadi di sejumlah wilayah Lampung Utara, Way Kanan, Lampung Barat, Tanggamus dan Pesisir Barat.
Memasuki dasarian III November, giliran sejumlah wilayah Lampung Tengah, Lampung Timur, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu dan Tanggamus yang diprakirakan mulai memasuki musim hujan.
Sebagian daerah lainnya baru akan mengalami awal musim hujan pada Desember 2026.
Adapun wilayah yang harus menunggu paling lama berada di sebagian Lampung Selatan dan Lampung Timur.
Di Lampung Selatan, Kecamatan Penengahan, Kalianda, Palas, Sidomulyo, Katibung dan sebagian Tanjung Bintang diprakirakan baru memasuki musim hujan pada awal Januari 2027.
Kondisi serupa diprediksi terjadi di sebagian besar wilayah Jabung dan Labuhan Maringgai, Lampung Timur.
Selain El Nino, BMKG juga mengamati perkembangan Indian Ocean Dipole. Pada dasarian II September 2026, indeks IOD tercatat positif 0,935.
Menurut Indra, kondisi tersebut menunjukkan perairan Samudera Hindia bagian timur masih relatif dingin sehingga kurang mendukung pembentukan awan hujan.
"Untuk IOD pada September berada di positif 0,935. Ini mengindikasikan perairan Samudera Hindia bagian timur masih dalam kondisi dingin sehingga pembentukan awan-awan hujan agak sulit terbentuk," ujarnya.
Kombinasi dua fenomena tersebut membuat periode kering di sejumlah wilayah Lampung berpotensi berlangsung lebih panjang. Hingga dasarian II September, BMKG bahkan mencatat terdapat wilayah yang telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.
Namun, mundurnya awal musim hujan bukan berarti daerah yang diprediksi baru memasuki musim hujan pada Januari 2027 sama sekali tidak akan diguyur hujan hingga waktu tersebut.
Hujan masih dapat turun secara sporadis. Sebab, penetapan awal musim hujan BMKG menggunakan kriteria klimatologis dan tidak ditentukan hanya berdasarkan satu atau dua kejadian hujan.
Secara umum, BMKG memprakirakan sifat musim hujan 2026/2027 masih normal di sebagian besar wilayah. Hanya saja, akibat awal musim yang mundur, durasi musim hujan di banyak wilayah diprediksi menjadi lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
