23.3 C
Bandar Lampung
Sabtu 6 Juni, 2020 02:00 WIB
Beranda OPINI Covid-19 Zaman Melenial, Thaun Zaman Umar Bin Khattab

Covid-19 Zaman Melenial, Thaun Zaman Umar Bin Khattab

OLEH WILDAN HANFI

VIRUS berukuran 400 mikrometer dari Kota Wuhan, China telah menguncang dunia. Dalam tiga bulan, ribuan manusia merenggang nyawa diserbu mahluk tak terlihat mata telanjang tersebut.

Seperti pepatah: “Datang tak diundang, pergi menghilang mencari mangsa lain. Tak pilih kaya miskin, covid-19 telah terbukti membunuh manusia hanya dalam tempo 14 hari.

Media massa terus memberikan kabar pertambahan korban, baik berstatus ODP, PDP, positif terinfeksi, maunpun yang gugur akibat voris corona setiap hari.

Saya terdiam sejenak merenungi guncangan tragedi oleh ulah virus corona, baik di media masa maupun di media sosial.

Hari demi hari, korban bertambah banyak dari segala penjuru dunia.

Para korban dan mereka tidak dimandikan, tidak dilaksanakan acara ritual, apa lagi ramai-ramai taziah.

Keluarga pun diharamkan membuka kantong mayat orang yang mereka sangat cintai.

Hingga Selasa (31/3/2020) pagi, 190 negara dengan 781.485 kasus yang diakibatkan virus corona.

Dari sejumlah kasus tersebut, ada 164.726 dinyatakan positif dan 37.578 meninggal dunia.

Di Indonesia, kasus positif virus corona per Senin (30/3/2020) telah menyentuh angka 1.414 kasus.

Jumlah tersebut bertambah 129 pasien yang dinyatakan positif terinfekai virus corona dalam 24 jam terakhir.

Dari total tersebut, sebanyak 75 orang berhasil sembuh. Sedangkan korban meninggal sebanyak 122 orang, bertambah 8 orang dari hari sebelumnya.

Korban telah berjatuhan akibat “virus jahanam” tersebut. Kita tidak dalam situasi biasa-biasa saja, jangan anggap sepele wabah yang menimpa umat manusia ini.

Kita sebagai manusia yang terlahir memikili kesempurnaan mari bersama-sama saling menguatkan antara korban ODP, PDP, dan juga keluarga korban yang terkena positif virus corona.

Dengan adanya wabah virus corona, kita sebagai muslim jangan sampai terlena dengan perintah Tuhan.

Pagi, kita sudah sibuk dengan menggali informasi geliat virus corona hingga lupa shalat dhuha.

Siangnya, kita terlarut memikirkan dampak virus tersebut hingga Di siang hari memasuki waktu zuhur.

Sore, waktunya shalat asar, kita masih saja terlena karena wabah corona.

Masuk maghrib, kita kelelahan hingga terbanggun waktu shalat isya.

Begitupula waktu isya, kita lupa seketika melihat media sosial memperhatikan perkembangan kasus virus corona, baik nasional maupun internasioanal hingga larut malam.

Adzan subuh bergema, tak mengusik kita terbanggun karena tidur larut malam.

Mari kita sama-sama mencari solusi dengan terus memohon pertolongan Alloh SWT, bukan malah saling caci maki, saling salah menyalahkan.

Tak ada konklusi jika tak dipikirkan bahu membahu mencari terobosan-terobosan untuk tangkal merambahnya virus corona menimpa umat manusia di dunia.

Mengikuti aturan pemerintah, berdiam diri di rumah (lockdown) masing-masing, serta tidak keluar dari wilayah-wilayah perbatasan.

Karena dengan kita keluar wilayah, bukan memutus mata rantai virus corona, melainkan menyambung mara rantai ke wilayah lain.

Hingga kita mengelak dari tempat keramaian, karena khawatir virus corona menyerang kekebalan tubuh (imun) yang kurang sehat.

Maka dari Itu, mari kita bersama mengamalkan hadis yang berbunyi: al-Nazhafatu min al-Imaan (kebersihan sebagian dari iman).

Kita beriman secara tidak langsung kita bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Thaun Zaman Umar Bin Khattab

Mari kita bersama-sama menelisik sejarah pada Zaman Sayyidina Umar bin Khattab, ketika tertimpa wabah penyakit dan kata lockdown .

Kisah lockdown sebenarnya ada dalam Islam.

Contohnya, seperti dikutip dari laman PWNU Jatim, Selasa (17/3/2020), suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab berangkat ke Syam bersama rombongan besar para sahabat.

Namun, di tengah perjalanan, sesampainya di wilayah Saragh, para pemimpin pasukan muslim di wilayah itu datang menyambut mereka, antara lain Abu Ubaidah bin Jarrah.

Mereka mengabarkan kepada “Sang Khalifah” bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam.

Mereka lalu berselisih pendapat apakah meneruskan perjalanan atau kembali lagi.

Umar berkata kepada Ibnu Abbas, “Panggil ke sini para pendahulu dari orang-orang muhajirin yang ikut dalam rombongan kita!”

Maka Ibnu Abbas memanggil mereka.

Umar kemudian bermusyawarah.

Kata Umar, “Wabah penyakit sedang melanda negeri Syam. Bagaimana pendapat kalian?”

Mendengar pertanyaan itu, mereka yang hadir berbeda pendapat.

Sebagian berkata, Anda berangkat ke Syam untuk suatu urusan penting. Karena itu, kami berpendapat tidak selayaknya Anda pulang begitu saja.”

Sebagian lain mengatakan, “Anda datang membawa rombongan besar, beberapa merupakan sahabat utama Rasulullah SAW. Kami tidak sependapat jika Anda harus membawa mereka menghadapi wabah penyakit ini.”

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan, dari Amir bin Saad bin Abi Waqqash, dari ayahnya bahwa ia pernah mendengar sang ayah bertanya kepada Usamah bin Zaid, “Apa hadits yang pernah engkau dengar dari Rasulullah berkaitan dengan wabah thaun?”

Jangan lupa, kita dengan hadis terkait wabah di zaman Rasullah SAW berikut:
Usamah menjawab, “Rasulullah pernah bersabda: Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan Bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” (HR Bukhari-Muslim).

Marilah bersama kita tetap waspada terhadap virus corona, memperbaiki hubungan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Berpikir positif, ikuti himbauan pemerintah.

Ibarat pepatah: Benang yang kusut mampu diluruskan. Air yang keruh pandai dijernihkan.

Jika, kita semua beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengkritalisasi ilmu yang kita dapat terhadap masyarakat, beramal kepada orang yang membutuhkan dengan niat tilus iklas yakin usaha sampai. Amin. ***

(*) Penggiat Literasi Lazuardi Hijau, Universitas Lampung.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Bantuan PKH Dan BPNT Di Pekon Sukaraja Semaka Carut Marut

 Carut marut terjadi dalam penyaluran Bantuan Kesejahteraan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)...

Tak Ada Yang Gratis, Rapid Test Pelaku Perjalanan Dinas Dibayari Pemerintah

 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana, membenarkan rapid test harus bayar Rp 350 ribu. Ia...

Rapid Test Di Diskes Lampung Bayar Rp 350 Ribu

 Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Lampung yang juga wali santri, mengeluhkan biaya rapid test yang terlalu...

Gempa Tektonik 4,9 SR Di Lepas Pantai Kabupaten Pesisir Barat

Gempa tektonik berkekuatan 4,9 scala richter (SR) menggetarkan Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung,Jumat (5/6), pukul 11.04 WIB. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG),...
Translate »