Cabai dan Ayam Naik, Pemkot Bandar Lampung Sebut Masih Wajar

Cabai dan Ayam Naik, Pemkot Bandar Lampung Sebut Masih Wajar
Ilustrasi/net

Article Header Image Harga sejumlah komoditas pangan di Bandar Lampung mulai merangkak naik meski belum memasuki periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Kenaikan terutama terjadi pada komoditas cabai dan daging ayam. Namun, Pemerintah Kota Bandar Lampung menilai kenaikan harga tersebut masih dalam batas wajar dan belum terlalu signifikan.

Pelaksana Harian Kepala Dinas Pangan Kota Bandar Lampung, Ni Made Ayu Kumala Dewi, mengatakan perkembangan harga pangan tersebut telah dibahas dalam rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Kalau itu, kan kita sudah bahas ya di rapat TPID kemarin. Di tim pengendalian inflasi daerah memang kita sudah siaga secara nasional, itu angkanya memang sudah merangkak naik untuk komoditas cabai,” kata Ni Made.

Menurutnya, salah satu langkah antisipasi yang dapat diperkuat di tingkat masyarakat adalah pemanfaatan lahan rumah tangga untuk menanam cabai.

Program tersebut sebelumnya telah didorong melalui Dinas Pertanian dengan mengajak masyarakat menanam cabai menggunakan media tanam sederhana, termasuk dalam pot.

“Paling yang bisa kita lakukan sebagai antisipasi adalah memperkuat yang di masyarakat. Ada kan yang menanam-nanam tabula pot cabai itu dari Dinas Pertanian, itu kita sosialisasikan kembali,” ujarnya.

Ni Made berharap tanaman cabai yang ada di rumah-rumah warga dapat dipelihara dengan baik sehingga setidaknya mampu membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga ketika harga di pasar meningkat.

“Jadi paling tidak rumah tangga bisa bertahan dengan tanaman yang ada,” katanya.

Sementara untuk kondisi harga cabai di pasar, Ni Made menyebut Bandar Lampung memang mengalami kenaikan. Namun, menurut dia, kenaikan tersebut belum berada pada level yang mengkhawatirkan.

“Kalau untuk di pasar, untuk mengendalikan harga sih sejauh ini, kalau untuk Kota Bandar Lampung memang ada kenaikan, tapi kenaikannya belum terlalu signifikan ya, artinya masih di tahap yang wajar,” jelasnya.

Ia mengatakan konsumsi cabai masyarakat juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tekanan harga. Ketika harga mengalami kenaikan cukup tinggi, konsumsi biasanya ikut menurun.

“Paling kita hanya menurunkan konsumsi cabai. Maksudnya kalau masyarakatnya ketika harganya terlalu naik, biasanya dia akan berkurang nih konsumsinya,” ucapnya.

Selain faktor konsumsi, kondisi cuaca dan masa panen juga menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi harga cabai. Ni Made memperkirakan harga dapat kembali normal ketika memasuki musim hujan dan produksi mulai memasuki masa panen.

“Mungkin kalau bersama dengan cuaca, nanti ketika sudah mulai musim hujan, terus kemudian sudah mulai panen, saya rasa insya Allah kembali normal, itu kalau untuk cabai,” tuturnya.

Sementara itu, kenaikan harga daging ayam dipengaruhi kondisi cuaca panas yang dapat meningkatkan risiko kematian pada ayam.

“Kalau daging ayam kan biasa kalau panas begini kan angka kematian itu kan tinggi, jadi pasti berpengaruh terhadap harga karkas di pasar,” pungkas Ni Made. Article Image

Editor : Tuti Nur Khomariyah

Kata Kunci


Berita Terkait