23.8 C
Bandar Lampung
Selasa 4 Agustus, 2020 06:00 WIB
Beranda OPINI Pojok Syafarudin Bung Karno-Hatta Bokek, Bento-Benti Kini Tajir-Tajir

Bung Karno-Hatta Bokek, Bento-Benti Kini Tajir-Tajir

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (23):

Oleh Syafarudin Rahman*

SORE usai salat asyar, dalam suasana mendung dan angin berhembus sejuk, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial), duduk di sofa panjang sebuah balkon menghadap ke beberapa batang pohon tinggi dan jalan raya.

Sebuah laptop terbuka di meja terkoneksi nirkabel dengan monitor 70 inchi yang menempel di dinding. Milenial menekan tombol power, memilih menu, gelapkan laptop, lalu pegang remote kuatkan pencahayaan dan volume speaker pada monitor dinding.

Mata kami tertuju ke dinding menyimak suara musik dengan iringan gitar akustik dari penyanyi balada Iwan Fals lewat tembang Bento.

Milenial: izin Proklamator dan Pak Syafarudin, silakan diminum herbal galih jahe merah kiriman keluarga pembaca dialog kita ini. Khasiatnya bisa menambah imunitas tubuh di era new normal di awal bulan Juli.

Bung Karno: Milenial apa kabar hangat pekan ini?

Syafarudin: Milenial, apa topik yang sebenarnya mau dibahas pekan ini? lagu pembuka dialog kali ini Bento, pasti mau bahas tentang elite ini?

Milenial : Maaf dan izin. Santuy aja dulu Proklamator dan Pak Syafarudin. Begini. Minggu lalu saya sudah jelaskan Bento itu gambaran plutokrasi orang yang tengah berkuasa, gagah, kaya, dan urusannya menjangkau apa saja, raja olah.

Bung Hatta : Milenial, nampaknya Anda ingin menjelaskan sesuatu tentang Bento?

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin, beberapa hari lalu Bento dan Benti, pasangan ini kena OTT KPK. Saya bacakan beritanya cukup panjang. Perlu disimak.

Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menangkap Bupati Kutai Timur Ismunandar dan Ketua DPRD Kutai Timur Encek Unguria, Kamis (2/7/2020).

KPK lalu menetapkan pasangan suami-istri tersebut sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek infrastruktur di Pemkab Kutai Timur.

Selain Ismunandar dan Encek, KPK juga menetapkan Kepala Bappeda Kutai Timur Musyaffa, Kepala BPKAD Kutai Timur Suriansyah, dan Kepala Dinas PU Kutai Timur Aswandini sebagai tersangka.

Sebelumnya, KPK merilis 10 provinsi dengan angka korupsi tertinggi sejak lima tahun terakhir, 2014 hingga 2019.

Secara nasional, Provinsi Lampung menempati urutan kedelapan daerah terkorup se Indonesia dan peringkat ke 3 Sumatera yang dicatat lembaga antirasuah tersebut

Di Lampung, kasus serupa menimpa lima eks kepala daerah. Dari lima kepala daerah tersebut, empat di antaranya terjaring operasi tangkap tangan.

Mereka adalah Bambang Kurniawan (Kabupaten Tanggamus), Mustafa (Lampung Tengah), Zainudin Hasan (Lampung Selatan).

Lainnya, Khamami (Mesuji) dan Agung Ilmu Mangkunegara (Lampung Utara) yang masih menunggu vonis di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang.

Syafarudin: Milenial, apa yang Anda pikirkan setelah membaca berita pasangan Bento kena OTT KPK tersebut? Mereka bupati dan ketua DPRD yang juga pasangan suami dan isteri?

Milenial: Saya teringat artikel satire Pak Syafarudin minggu lalu yang dimuat RMOLLampung.id berjudul Koruptor Antara Diberantas dan Dirawat. Dihindari dan diberantas karena korupsi membawa implikasi buruk. Dibutuhkan dan dipelihara karena ada hal positif yang bisa ditimbulkan korupsi (?).

Pandangan yang kedua ini lah yang tampaknya masih meracuni cara berpikir elite politik, mafia pengusaha, termasuk oknum birokrat ABS (asal bapak senang) untuk turut menyuburkan praktik korupsi di Indonesia.

Wajar bila muncul adagium corruption is the way of doing politics (korupsi adalah metode berpolitik) dan corruption is the way of running government (korupsi adalah cara bekerjanya roda pemerintahan).

Bung Karno: Mengerikan dan hedonis sekali era kalian sekarang Bung Syafarudin. Dari kiri kanan berpasangan mengganyang anggaran negara. Kenapa Anda menatap lama kami berdua, apa yang Anda pikirkan?

Syafarudin: Proklamator, saya teringat cerita enam keteladanan kepemimpinan dan moral Bung Hatta. Saya juga teringat opung Eddi Elison yang menulis tentang Bung Karno sebagai Presiden Tongpes alias kantong kempes alias bokek.

Bung Hatta: Bung Syafarudin, bagaimana generasi kalian mencatat dan mengapresiasi kami.

Syafarudin: Proklamator, panjang uraianya, saya minta milenial yang jelaskan.

Milenial: izin Proklamator, saya bacakan yang ada di monitor. Berikut enam kisah kesederhanaan Bung Hatta yang menggetarkan hati.

1. Kembalikan dana taktis Wapres
Hatta bukan orang kaya. Gajinya sebagai wakil presiden selalu habis digunakan untuk membeli buku. Dia juga tidak pernah mau main ambil uang yang bukan haknya. Hatta pernah menyuruh asistennya mengembalikan dana taktis wakil presiden sebesar Rp 25 ribu. Padahal jika tidak dikembalikan pun tidak apa-apa. Dana taktis itu tidak perlu dipertanggungjawabkan. Tapi Hatta orang jujur yang punya kehormatan.

2. Kesulitan bayar tagihan listrik
Hatta, istri dan tiga anaknya tinggal di Jl Diponegoro 57, Jakarta. Hatta mendapat uang pensiun sebesar Rp 3.000. Jumlah itu terbilang kecil. Hatta pun terengah-engah membayar tagihan listrik rumahnya.

Hatta juga menolak semua jabatan komisaris baik dari perusahaan nasional maupun perusahaan asing. Dia merasa tidak bisa bertanggung jawab pada rakyat jika mengambil jabatan itu. Menurut Hatta, apa kata rakyat nanti kalau dia menerima jabatan sebagai komisaris. Bung Hatta juga menolak jabatan di Bank Dunia.

Seperti diketahui, jabatan komisaris perusahaan ini biasanya merupakan jatah pejabat yang pensiun. Tanpa perlu kerja, setiap bulannya para pejabat ini akan mendapatkan gaji buta. Karena itulah Hatta menolak.

3. Tak mampu beli sepatu Bally
Kisah ini disampaikan oleh sekretaris pribadi Bung Hatta, Iding Wangsa Widjaja. Suatu ketika Bung Hatta berjalan-jalan di pertokoan di luar negeri. Dia mengidam-idamkan sepatu Bally yang terpampang di etalase. Begitu mengidamkannya, guntingan iklan sepatu Bally itu dia simpan di dompetnya. Dia berharap suatu waktu bisa membelinya.

Apa daya, sampai meninggal Bung Hatta belum bisa membeli sepatu Bally itu. Dan, guntingan iklan masih tersimpan di dompetnya. Andai saja Bung Hatta mau menggunakan kekuasaannya, tentu dia akan mudah mendapatkan sepatu Bally yang diidam-idamkan itu.

4. Istri menabung demi mesin jahit
Hatta hanya mengenal seorang wanita selama hidupnya. Dialah Rachmi Rahim yang biasa dipanggil Yuke. Usia Hatta dan Yuke terpaut 24 tahun. Saat menikah Yuke baru berusia 19 tahun. Maklum, Hatta pernah berjanji tidak akan menikah selama Indonesia belum merdeka.

Di sebuah Vila di Megamendung Bogor tanggal 18 November 1945, keduanya menikah. Yang unik, Hatta memberi Yuke mas kawin berupa buku karangannya yang berjudul Alam pikiran Yunani. Keluarga Hatta sempat protes. Masa iya menikah memberikan mas kawin berupa buku? Bukankah seharusnya emas atau harta yang berharga? Tapi itulah Hatta. Baginya buku dan ilmu pengetahuan adalah hal yang paling berharga.

5. Naik haji dengan menabung
Selama ini kita mendengar dan melihat banyak pejabat di Indonesia pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji menggunakan fasilitas negara.

Tahun 1952, Bung Hatta hendak melakukan ibadah haji bersama istri dan dua saudarinya. Waktu itu Bung Karno menawarkan agar menggunakan pesawat terbang yang biayanya ditanggung negara. Tapi Bung Hatta menolaknya, karena ia ingin pergi haji sebagai rakyat biasa, bukan sebagai wakil presiden. Dia menunaikan rukun Islam kelima dari hasil honorarium penerbitan beberapa bukunya.

6. Ingin dimakamkan di kuburan rakyat biasa.

Bung Hatta yang dikenal sebagai Gandi dari Indonesia itu dikenal sangat ingin menyelami kehidupan sebagai rakyat Indonesia. Ketika meninggal dunia pun Hatta tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Dia hanya ingin dimakamkan di taman makam biasa.

“Saya ingin dikubur di kuburan rakyat biasa. Saya adalah rakyat biasa,” kata Hatta dikutip dari buku “Bung Hatta Menjawab” karangan Z Yasni.

Presiden Tongpes

Eddi Elison menulis Presiden Sukarno selalu berpakaian rapih dan perlente. Tetapi penampilan itu tidak menggambarkan suasana kantongnya. Jurnalis yang mendampingi kegiatan rutin Presiden malah menjuluki Sukarno presiden Tongpes alias kantong kempes

1. Hutang lukisan dan patung
Dalam kegiatan pameran karya lukisan dan patung kadang Presiden ytertarik untuk membelinya tapi Sukarno tidak punya duit untuk membelinya. Untungnya seniman lukis dan patung berbaik sangka (khusnuzan). Bung karno berhutang lukisan atau patung itu pasti suatu saat dibayar bila ada uang.

2. Melunasi utang ke seniman dengan menjual mobil pribadi
Adalah pematung dan pelukis asal Yogyakarta bernama Edhie Soenarso pernah diutangi Sukarno. Usai Edhie menyelesaikan patung Dirgantara maka Bung karno menjual mobil pribadi untuk melunasi utangnya.

3. Minta bantuan beli cat
TD Pardede tokoh PNI dari Medan yang juga pengusaha pernah datang memenuhi panggilan Bung Karno dengan terburu-buru. Saat bertemu Bung karno tidak banyak yang dibicarakan. Kecuali kalimat singkat minta bantuan buat beli cat. TD Pardede langsung serahkan USD 1.000. “Waah banyak sekali komentar Bung Karno.
TD Pardede berkata “Aku tidak percaya kok ada Presiden yang tidak punya heppeng (bahasa batak artinya uang), Seperti bung Karno. Mau beli cat tak bisa. Kukasih 1000 dibilang banyak sekali”. Kelak Pardede dapat informasi uang tersebuit sebagian diserahkan Bung Karno ke Fatmawati untuk biaya kos Guntur dan Megawati di Bandung.

Syafarudin: Cukup Milenial. Izin Proklamator, sudah menjelang magrib. Terima kasih atas dialognya. Biarlah pembaca yang menyimpulkannya. Kita bubar dulu. Insha Alloh pekan depan kita dialog kembali. Wassalamualaikum warrahmatulohi wabarakatuh.

*Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan
FISIP Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Youtube Hapus Tayangan Berlokasi Di Pulau Tegal Mas Soal Obat Covid-19

Youtube menghapus video wawancara antara musisi Anji (Erdian Aji Prihartanto) dengan Hadi Pranoto yang mengklaim temukan obat sembuhkan pasien positif Covid-19. Video yang diambil dari...

Seorang Wanita Bakar Bendera Merah Putih Dan Kibarkan Bendera Belanda

Seorang wanita membakar Bendera Merah Putih serta mengibarkan Bendera Belanda di Kelurahan Sribasuki, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Man Astutiningtyas (30),  perempuan tersebut, mengaku bakar...

BPN Tanggamus Kurban 3 Sapi Dan 3 Kambing

   Untuk berbagi kepada sesama saat Idul Adha 1441 H, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tanggamus berkurban 3 ekor sapi...

Inilah 5 Eselon II Dan 2 Eselon III Pemprov Lampung Yang Baru Dilantik

   Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto, mewakili Gubernur Arinal Djunaidi, melantik tujuh pejabat di lingkungan Provinsi Lampung, Senin...
Translate »