23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 05:21 WIB
Beranda OPINI Pojok Syafarudin Bung Karno Dahulukan Minta Maaf Dengan Wong Cilik

Bung Karno Dahulukan Minta Maaf Dengan Wong Cilik

Dialog Imajiner dengan Soekarno-Hatta (17):

Oleh Syafarudin Rahman*

USAI salat duha di Masjid Istiqlal yang sepi karena ada kebijakan siaga Covid-19, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa Milenial peretas) bergeser duduk di room pucuk Monas.

Monas, Monumen Nasional yang dijuluki Rocky Gerung sebagai ‘”Monumen Akal Sehat”.

Di kawasan Monas, siang itu, ada proyek revitalisasi.

Milenial peretas membawa sebuah mini laptop di punggung dan asyik mengarahkan teropong binocular terbaru.

Dari ketinggan 130 meter, dia meneropong ke arah Istana yang berjarak 1200 meter. Dari teropongnya, dia melihat pasukan berjaga, lalu lalang, namun lengang.

Di halaman belakang, seorang pria cungkring sedang asyik memainkan aneka kodok peliharaannya.

Milenial juga mengarahkan teropong ke arah Balai Kota DKI. Dia melihat Kantor Menko Kesra, Departemen Perhubungan, dan Kementerian Kebudayaan Pariwisata.

Bung Karno: Kenapa kita berdialog di lokasi monumen bersejarah dan strategis ini ?

Bung Hatta : Suasana sepi, bukankah sekarang memasuki syawal atau dikenal Hari Raya Idul Fitri. Biasanya rame orang belanja , mengantar parcel dan borong aneka kue. Lalu, Persiapan open house pejabat. Hadis manalagi yang ingin dikaji pekan ini?

Syafarudin : Izin Proklamator, sengaja kami bawa ke kawasan Masjid Istiqlal, Istana dan Balai Kota DKI untuk mengenang kembali kebiasaan Bung Karno saat di Istana pada Hari Raya Idul Fitri atau hari lebaran kaum muslim.

Milenial : Izin Proklamator, Lebaran Idul Fitri 1441 H ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk ketika Bung Karno masih di Istana.

Bung Hatta : Bedanya dimana Milenial?

Milenial : Bung Karno bervariasi merayakan hari besar umat muslim, tidak selamanya di Istana Jakarta, tapi kadang ke Istana di Yogkarta, Makasar dan Bali.

Syafarudin : Ini menunjukan Bung Karno seperti Mahapatih Gajah Mada memiliki wawasan luas tentang Nusantara. Indonesia bukan hanya Jakarta, tapi terdiri dari puluhan ribu pulau yang mesti disapa dan dijaga persatuan serta kesatuannya.

Milenial : Bung Karno memulai tradisi salaman minta maaf saat lebaran. Dan, uniknya, menurut catatan jurnalis Eddi Elison, Bung Karno membelakangi acara salaman bersama menteri atau pejabat negara. Tapi yang didahulukan, Bung Karno didampingi keluarga meminta maaf kepada wong cilik di lingkungan Istana, mulai dari tukang masak, pengasuh, pemelihara kebun, Kombes Mangil, pasukan pengawal Cakrabirawa, sopir, dokter, protoker.

Bung Hatta : Milenial, yang sekarang bagaimana?

Milenial : Meski hobi naik motor, nge-vlog dan selfie, dia pergaulannya sebatas Jakarta dan Bogor. Temen-temen saya di gang motor menjuluki sosok itu bukan bikers sejati tapi shock breakers.

Bung Karno : Ehem..ehem, ehem-ehem. Ini kepo atau pada rumpi ya? Selanjutnya pecah Ha-ha-ha… (Bung Besar, sambil mengedipkan sebelah mata, tertawa lepas diikuti kami semua, sambil mesem-mesem)

Syafarudin : Izin Proklamator, kembali ke laptop. Tahun ini, kami salat Idul Fitri 1441 H jarang yang salat berjamaah di lapangan terbuka, rata-rata di rumah masing-masing.

Kalau pun nekat atau merasa steril, maka ada yang berjamaah di masjid dekat rumah. Acara keliling salaman 40 tetangga berkurang, kami lebih asyik kirim pesan maaf lewat aplikasi.

Bung Hatta : Apakah ini dampak dari kesiagaan serangan Covid19?

Milenial : Ya benar, kami sekarang hidup bukan pada era yang normal. Netizen menyebut sekarang, kami memasuki Era New Normal. Salat berjamaah kami lebih banyak di rumah daripada di masjid untuk menghindari virus yang belum ditemukan vaksinnya.

Para ulama sepakat dengan kaidah fikih da’rul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih. Menghindari bahaya atau hal negatif lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.

Dan ini sejalan hadis ke-11 dari kitab Arbain An- Nawawiyah yang akan kita bahas pekan ini. Al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib r.a., cucu kesayangan Rasulullah berkata, Rasulullah bersabda ”Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan Kerjakan perkara yang tidak meragukan mu” .Sanad hadis ini Shahih menurut Tirmizi dan Nasai.

Bung Hatta : Apa makna kandungan hadis ini?

Milenial : Salah satu isi kandungan hadis ini jika keraguan benturan
dengan keyakinan, dalam kondisi seperti itu, maka kita pilih yang kita yakini.

Syafarudin : Izin Proklamator, matahari semakin meninggi. Kami permisi pulang. Terima kasih. Insha Alloh pekan depan dialog lagi.

Selamat Idul Fitri.
Taqobbalallahu minna wa minkum.
Barakallahu Fiikum.

*Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Organisasi Pers Desak Kapekon Sukaraja Minta Maaf, Atau Mundur!

 Dugaan pelecehan terhadap media online oleh Boymin selaku Kepala Pekon (Kapekon) Sukaraja Kecamatan Semaka, menuai kecaman beberapa organisasi...

“Garang” Di Medsos, Abu Janda Tak Muncul Dipanggil Bareskrim

Permadi Arya atau Abu Janda mungkin hanya kelihatan garang di sosial media. Dipanggil Bareskrim Polri terkait ujaran kebencian dan penistaan agama, batang hidungnya tak...

Rumah Ibadah Boleh Dibuka Di Masa New Normal Versi Kemenag

 Rencana pemerintah pusat untuk mengembalikan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat kembali normal dalam bingkai tatanan kehidupan baru atau...

New Normal Atau Norma Baru?

Oleh Dr. Andi Desfiandi, SE,. MA PEMERINTAH merencanakan penerapan new normal atau "kenormalan baru", yakni "pelonggaran" daerah zona hijau dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Secara bertahap...
Translate »