23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 03:50 WIB
Beranda OPINI Pojok Syafarudin Bung Karno: Bantu Tetangga, Tanpa Pencitraan

Bung Karno: Bantu Tetangga, Tanpa Pencitraan

Dialog Imajiner dengan Soekarno-Hatta (15):

Oleh Syafarudin Rahman

SEUSAI salat subuh berjemaah di Masjid Almubaligh yang sepi dan hanya berjarak 300 meter dari rumah Dinas Gubernur Provinsi Pabrik Permen, saya bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan seorang mahasiswa milenial peretas bergeser duduk distancing sambil menatap langit gelap usai gerimis di teras masjid.

Syafarudin : Izin Proklamator, dialog kali ini kita membahas hadis ke- 15 dari Kitab Arbain An- Nawawiyah.

Bung Karno : Urutan hadis yang dibahas kok kembali zig zag.  Pekan lalu membahas hadis nomor 16, kini mundur ke hadis nomor 15. Tapi, terserah pilihan Bung Syafar saja, tentu ada maksudnya.

Bung Hatta : (sambil menatap ke langit) Amazing, subhanalloh, pemandangan sisa super moon begitu luar biasa menakjubkan. Apa yang ada dalam pikiranmu wahai anak muda milenial melihat bulan besar itu.

Milenial : Pencipta super moon ini pastilah Alloh Yang Maha Besar. Dia pula yang menciptakan Covid-19, makhluk mikro yang tidak bisa dilihat kasat mata, tidak bisa dilawan manusia dengan tank baja, pesawat tempur dan senjata nuklir. Makhluk mikro ini menyebabkan manusia mengisolasi diri di rumah, seperti menjadi tahanan rumah. Ada yang menyikapi bijak, santai dan ada juga yang menjadi paranoid karena PSBB (pendapatan sedikit beban besar).

Izin Proklamator dan Pak Syafar, kita duduk mesti berjarak nih. Selanjutnya, saya bertugas bacakan teks hadisnya dan sedikit uraianya yang saya kutip dari penjelasan Ustad Prof. Dr. Abdul Somad, Lc, MA .

Dari Kitab Arba’in An- Nawawiyah (Menyelami Makna 40 Hadist Rasullulah), karya Dr. Musthafa Dieb Al Bugha Muhyidin Mitsu, hadis ke-15 yang kita bahas kali ini.

Periwayat hadis, Abu Hurairah Ra dari hadis syahih Bhukari dan Muslim: Abu Hurairah Ra berkata, Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangga. Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamu.”

Makna kandungan hadis ini. Pertama, berkata yang baik adalah tanda kesempurnaan iman. Kedua, berlaku baiklah kepada tetangga. Ketiga, menyakiti tetangga dapat menyebabkan kehancuran. Keempat, banyak cara berbuat baik kepada tetangga. Kelima, adab menerima dan menghormati tamu.

Bung Hatta : Kenapa kita mesti kembali mempelajari hadis ke-15 ini, apa konteksnya Bung Syafar? ***

Syafarudin : Sempat beredar viral video dua anak kecil beserta ibunya tewas gantung diri bersama, mengenaskan, penyebabnya karena miskin kelaparan.

Netizen awalnya mengira itu terjadi di Nusantara, ternyata itu terjadi pada bulan Februari 2020 di Afrika Selatan. Sebelum itu, di Nusantara, ada kampanye ajakan menengok dan bantu tetangga yang miskin terdampak Covid-19, caranya cukup gantungkan bahan sayur dan sembako di pagar rumah dan biarkan mereka yang butuh untuk membawanya pulang bekal berbuka.

Ada juga ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita kampanye saatnya ikut bergerak untuk membantu rakyat.

Bung Karno : Apa ibu-ibu yang kampanye itu menengok dan bantu tetangga sekitar mereka dulu? Apa motivasi mereka membantu tetangga dan warga sesungguhnya?

Syafarudin : Dua pertanyaan yang langsung menohok. Agar mendapat jawaban yang jernih, silakan milenial yang jawab.

Milenial : waduh, berat ini, apalagi saya sedang saum, tapi saya harus berkata jujur apa adanya. Dalam pemantauan saya di lapangan sedikit sekali mereka ibu-ibu pejabat yang mulai membantu dari empat puluh tetangga sekitarnya dari rumah mereka di kota atau rumah mereka di kampung.

Meski niatnya menolong warga, tapi yang nampak bahwa ini usaha mereka membantu menaikan citra positif pasangan mereka yang pejabat publik.

Itu ditandai dengan kebiasaan mereka foto selfie dan unggah foto status di sosial media dan media online berbayar setelah membagi sembako atau masker ke masyarakat. Bahkan ada yang kebablasan menggunakan bantuan untuk mencari suara buat incumbent. KPK, bawaslu dan netizen meradang.

Syafarudin : Bung Karno, ada yang menarik dari catatan Eddi Elison, wartawan Istana kala itu soal Bung karno yang kerap incognito atau blusukan tanpa pengawalan dan pencitraan. Meski sempat dilarang Resimen Cakrabirawa, Bung Karno tetap saja bandel blusukan sendiri siang atau malam.

Bung Karno blusukan, dalam catatan Eddi, seperti meniru Harun Al Rasyid, khalifah ke-5 Dinasti Abbasiyah yang memerintah pada Abad ke-7. Milenial mohon ceritakan bagaimana Bung Karno melakukan incognito atau blusukan dalam catatan Eddi Elison.

Milenial :Ada dua peristiwa penting blusukan Bung Karno yang bisa menjadi pelajaran. Pertama, incognito siang hari tanpa kopiah, cuma pakai baju lengan pendek. Kombes Mangil sebagai pengawal juga pakaian preman siang itu ke kawasan Tanjung Priok.

Tanpa melibatkan wartawan. Bung karno kaget melihat antrean mobil yang panjang menumpuk untuk membeli minyak tanah. Bung karno minta Kombes Mangil mengantarkannya pulang ke Istana dan memanggil Menteri Chairul Saleh yang mengurusi distribusi bahan dasar.

Setelah Chairul Saleh tiba di Istana, maka Bung Karno langsung masuk ke dalam mobil Chairul Saleh didampingi Kombes Mangil , rombongan ini langsung menuju kawasan Tanjung Priok kembali untuk atasi kemacetan distribusi minyak tanah.

Selama Bung Karno dialog dengan petugas distribusi minyak tanah Menteri Chaerul Saleh diam tidak bicara menanggung malu.

Kedua, menjelang peringatan HUT RI, 17 Agustus, Bung Karno mengajak Kombes Mangil untuk mendampinginya keliling melihat rumah pejabat negara dan rumah orang-orang kaya yang ternyata Bendera Merah Putih dipasang asal-asalan dengan bambu runcing dan nyangkut di pagar rumah, seolah menyepelakan Bendera Merah Putih. “Menyedihkan dan memalukan”, ujar Bung Karno kepada Kombes Mangil.

Syafarudin : Maaf Proklamator, di Era 4.0 ini, semua berubah. Pejabat yang incognito mulai dari bupati, wali kota, gubernur, menteri, presiden selain didampingi ajudan pembawa teks pidato, maka didampingi rombongan jubir, humas, wartawan yang bawa HP, kamera siap live streaming. Apa pesan Proklamator untuk kami dan pemimpin di masa siaga Covid-19?

Bung Hatta: Era kalian pemimpin serba instan dan banyak pencitraan media. Bersatulah para pemimpin hadapi Covid-19. Bila ada menteri yang mulai berseberangan dan tidak nyaman kepada Presiden sebaiknya buat surat mengundurkan diri seperti yang saya lakukan di tahun 1956.

Bung Karno: Bantulah tetangga dengan ikhlas tanpa perlu pencitraan.

Syafarudin: Maaf dan izin Proklamator matahari semakin meninggi, kami permisi dan mohon berkenan dialog lagi pekan depan.

(*) Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Habis Dwi Fungsi ABRI, Terbitlah Dwi Fungsi Pengusaha

Dialog Imajiner dengan Soekarno-Hatta (16): Oleh Syafarudin Rahman LEPAS salat asyar berjemaah di Masjid Alwasi'i yang sepi karena ada kebijakan kuliah online dari rumah menghadapi siaga...

Marah Keliru: “Leadership Under Capacity”

Dialog imajiner dengan Soekarno-Hatta (14): Oleh Syafarudin Rahman  SEUSAI Subuhan berjamaah di Masjid Al-Mubaligh yang sepi dan hanya berjarak 300 meter dari Rumah Dinas Gubernur Provinsi...

Politisi Cai Bucai: KGB, MEOK Dan Raja Olah

Oleh Syafarudin, SSos, MA* ISTILAH yang dilontarkan elite politisi Provinsi Lampung yang duduk di kursi eksekutif senantiasa menarik perhatian publik. Belakangan ini, ada elite yang...
Translate »