29.4 C
Bandar Lampung
Selasa 14 Juli, 2020 11:17 WIB
Beranda OPINI Pojok Syafarudin Bung Hatta: Pancasila Jalan Lurus, Bukan Kanan Atau Kiri

Bung Hatta: Pancasila Jalan Lurus, Bukan Kanan Atau Kiri

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (19):

Oleh Syafarudin Rahman

KAMI berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin, dan mahasiswa milenial), duduk santai di kursi dan sofa panjang berhadapan dalam ÔÇØroom dialog imajinerÔÇØ.

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin, silakan diminum teh herbal daun sungkai kiriman keluarga Anshori Djausal mumpung hangat. Khasiatnya menambah daya imunitas tubuh di era new normal bulan Juni ini. Bagi pengikut ajaran Bung Karno, bulan Juni ini identitik dengan Bulan Bung Karno dan spesial.

Syafarudin: Milenial, apa saja kegiatan bulan Bung Karno tersebut. Oya. I remember Bung Besar adalah Putera Sang Fajar lahir 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970. Sehari sebelumnya, 20 Juni 1970 Bung Hatta besuk Bung Besar terbaring sakit di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Itulah perjumpaan terakhir dwitunggal yang mengharukan. Bung Hatta mundur dari Wakil Presiden sejak Tahun 1956. Sebagai peneliti, saya pun berkaca-kaca haru membaca kisah dan percakapan terakhir Proklamator Bangsa, yang ditulis cermat jurnalis Istana Eddi Elison.

Milenial : Pak Syafar, biasanya Bulan Bung Karno diisi berbagai kegiatan seperti peringati Lahirnya Pancasila, beberapa orang dan pejabat publik buat poster dengan foto kolase Bung Karno. Ada yang mengadakan diskusi atau kajian seputar Pancasila dan puncaknya berdoa serta ziarah ke makam Bung Karno di Blitar.

Uniknya pengagum tulen Bung Karno menulis kritis di laman sosial media bahwa tokoh lokal atau pejabat yang memasang foto kolase bersama Bung Karno dengan tata letak arah kopiah yang keliru, biasanya terjadi saat bulan Juni dan musim pilkada serta pemilu, berarti mereka telah menempatkan Bung Karno sebagai Political Joke bukan vote getter.

Syafarudin: Milenial, menurutmu, mengapa Pemimpin Besar Revolusi begitu dikagumi sampai sekarang?

Milenial : Bung Besar dikagumi bukan hanya karena ditakdirkan sebagai presiden pertama dan proklamator, tapi pemikiran beliau yang berilian, jiwa seni arsitektur tinggi, pidato berapi-api memotivasi rakyat. Bung Besar memiliki rekam jejak yang jelas sejak sekolah, kuliah,siapa teman, guru dan mentornya. Bung Besar juga bisa menulis dan pembaca pledoi dalam sebuah pledoi dalam Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris yang berjudul (Indonesie Klaagt aan (Indonesia Menggugat) di depan pengadilan Belanda 1930 yang isinya luar biasa.

Meski akhirnya Bung Besar dijebloskan Belanda ke penjara Sukamiskin. Bagi kami milenial, perjuangan dan kepemimpinan solidarity maker Bung Besar luar biasa. Kami milineal juga menghormati dan mengagumi pemikiran kooperasi, perjuangan dan kepemimpinan administratur Bung Hatta. Dwi Tunggal Proklamator yang amazing.

Syafarudin: izin Proklamator dan kita semua, mari kita kembali fokus ke topik sejarah perjalanan Pancasila. Ada sebuah buku kecil (16 halaman) yang ditulis Bung Hatta, diterbitkan 1966 oleh Penerbit Angkasa Bandung. Risalah ini bahan dialog kita pekan ini. Mohon Milenial bacakan pokok-pokok yang penting dalam buku tersebut.

Lalu Milenial menghidupkan sebuah laptop dihadapannya yang terkoneksi dengan monitor smart tv 70 inch yang nempel di dinding sebagai pendukung presentasinya.

Milenial : buku ini kecil, tipis,seperti kebiasaan Bung Hatta yang buat brosur ÔÇ£Demokrasi KitaÔÇØ tipis, tapi tulisannya kritis, tajam bahkan sempet ada yang tersinggung dan memberangus.. Berarti isi artikel Bung Hatta itu luar biasa. Kecil-kecil cabe rawit. Nampol kata netizen sekarang.

Bung Karno : ehem-ehem, milenial mau provokasi kemesraan kami ya. (Bung Karno tersenyum seraya memeluk Bung Hatta yang duduk di sebelahnya)

Syafarudin: Milenial mohon kita kembali fokus dan bacakan teks buku yang tertera di monitor saja.Ini bacaan serius lo.

Milenial : Siap Pak Syafar. Judul Buku; Pancasila Jalan Lurus. Penulis Muhammad Hatta. Sejak percobaan merebut kekuasaan negara oleh Gestapu/PKI gagal dan ABRI bersama dengan ormas-ormas golongan agama dan nasional bertindak bahu membahu untuk mengikis gerakan PKI sampai ke akar-akarnya, banyak suara yang menyatakan kekhawatirannya bahwa ÔÇ£Revolusi akan menyeleweng ke kananÔÇØ.

Benarkah pendapat itu? Revolusi Indonesia yang dicetuskan dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, yang disemangati oleh Pancasila, tidak mengenal jalan kanan dan jalan kiri, hanya mengenal jalan lurus yang diridhai Tuhan Yang maha Esa.

Tujuan revolusi Indonesia itu memerdekakan Indonesia dari genggaman imperialisme dan kolonialisme segala macam, baik politik dan ekonomi maupun ideologi, dan membangun Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tujuan itu merupakan tugas teramat berat, untuk itulah bangsa kita memerlukan bimbingan dari Yang Maha Kuasa, itulah sebabnya maka negara kita berdasarkan Pancasila.

Para pemimpin rakyat Indonesia dengan ikhlas mengakui bahwa : Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Karena itulah, saya mengajak bangsa Indonesia agar jangan mempermainkan Pancasila, dan hanya menggunakan Pancasila sebagai ÔÇ£lip serviceÔÇØ saja. Pengakuan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam artinya, tidak dapat dipermain-mainkan. Tidak saja berdosa, sebagai manusia kita menjadi makhluk yang hina, apabila kita mengakui dengan mulut dasar yang begitu tinggi dan suci, tetapi di hati tidak dan diingkari dengan perbuatan.

Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lagi hanya hormat menghormati agama masing-masing, melainkan menjadi dasar yang memimpin ke jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran dan persaudaraan.

Dengan dasar ini sebagai pimpinan dan pegangan dalam kesatuan Pancasila, pemerintahan negara pada hekekatnya tidak boleh menyimpang dari jalan yang lurus untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan keselamatan masyarakat, perdamaian dunia yang abadi serta persaudaraan bangsa-bangsa.

Presiden Soekarno mempunyai tujuan yang baik dengan menciptakan nasakom itu, yaitu menghilangkan sistem ÔÇ£free fight democracyÔÇØ dan menggantinya dengan dasar kerjasama dengan musyawarah antara 4 golongan yang berpengaruh dalam masyarakat yakni golongan nasional, golongan agama, golongan komunis dan golongan karyawan.

Tetapi dari semulanya sudah dapat diduga, bahwa maksud baik Presiden Soekarno itu akan disalahgunakan oleh PKI untuk memperkuat kedudukannya dalam masyarakat dan dalam pemerintahan.

Nasakom bagi PKI hanya dipergunakan sebagai batu loncatan untuk merebut kekuasaan, seperti dilakukannya dengan gerakan 30 September 1965.
Kaum komunis bukan komunis dan leninis, apabila tujuannya lain dari merebut kekuasaan selekas-lekasnya untuk mengkomuniskan seluruh dunia. Pancasila tidak pernah diakuinya dan tidak dapat diakuinya karena bertentangan dengan filsafat sosialnya: materialism, anti-Tuhan.

Tetapi sebagai taktik, PKI mengakui bahwa Republik Indonesia ÔÇô bukan mereka ÔÇô berdasarkan Pancasila. Mereka menggoncengi pemerintahan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila itu hanya sebagai jalan untuk merebut kekuasaan. Apabila mereka sudah berkuasa, dasar Pancasila itu mereka hapuskan, diganti dengan dasar komunisme dan materialisme dialektik.

Tetapi dalam hal ini hukum dialektik itu berlaku pula terhadap PKI sendiri. Dengan tindakannya yang biadab dalam percobaan merebut kekuasaan yang dapat dipatahkan oleh ABRI atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, ia menghidupkan lawannya yang lebih besar. Pendukung-pendukung negara Pancasila berjangkit seperti orang yang tersentak dari tidurnya. Semangat Pancasila bergelora kembali.

Syafarudin: Cukup sampai poin itu dulu milenial. Izin Proklamator. Prolog dialog kali ini cukup panjang dan serius. Bung Hatta, mengapa bung perlu menulis kembali risalah kecil 16 halaman penegasan Pancasila Jalan Lurus. bukankah Piagam Jakarta sudah diluruskan dengan menghilangkan 7 kata di belakangnya. Sila Pertama Pancasila menjadi Ketuhanan Yang maha Esa, dan itu sampai sekarang tetap demikian meski sudah 4 kali amandemen konstitusi?

Bung Hatta : Saya kira jawabannya sudah jelas dari yang saya tulis. Mohon milenial yang jawab pertanyaan tersebut.

Milenial : Izin Proklamator. CMIIW. Bung Hatta menjawab propaganda antek-antek komunis yang gencar mengeluarkan opini publik bahwa ÔÇ£Revolusi akan menyeleweng ke kananÔÇØ. Atinya lebih cenderung mendasari pandangannya berbasis nikai agama atau transenden. Sedangkan Pancasila sendiri tidak mengenal jalan kanan dan jalan kiri, hanya mengenal jalan lurus yang diridhai Tuhan Yang maha Esa.

Syafarudin: Soal gagasan Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis), mengapa Bung Hatta cepat sekali melihat bahwa bakal ada free rider atau penumpang gelap yakni PKI?

Bung Hatta : Saya kira jawabannya sudah jelas dari yang saya tulis. Mohon milenial kembali yang jawab pertanyaan tersebut.

Milenial : Izin Proklamator. CMIIW. Nasakom bagi PKI hanya dipergunakan sebagai batu loncatan untuk merebut kekuasaan, seperti dilakukannya dengan gerakan 30 September 1965.

Bung Hatta : filsafat sosial komunis adalah materialism, dan anti-Tuhan. Era sekarang ini adakah upaya anak keturunan PKI yang menunjukan antituhan? Lalu apakah tawaran ideologi komunis masih laku di era kalian 4.0 sekarang? Mohon Bung Syafar yang jawab.

Syafarudin: Sempat muncul usulan dan wacana kolom agama di KTP dihapuskan. Publik sigap dan meredam gagasan itu karena paham siapa yang bermain. Ideologi Komunis kalah dibandingkan Ide Demokrasi. Komunis tidak mengenal kepemilikan pribadi, tapi kepemilikan negara.

Komunis alergi dengan agama, sementara demokrasi menghargai agama. Lihat saja Hongkong merasa nyaman dibawah Inggris yang berikan ke bebasan berdemokrasi. Saat Hongkong diserahkan Inggris kembali ke RRC, maka masyarakat Hongkong protes meski tertekan dan banyak yang kabur menjadi diaspora.

Bung Karno : Maaf semuanya Saya permisi duluan karena mesti segera ke Blitar. Sudah ramai yang ziarah. Insha Alloh pekan depan bolehlah kita dialog kembali. Assalamualaikum warrohmatulohi wabarakatuh. ***

*Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan
FISIP Universitas Lampung

 

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Preman Dari Provinsi Pabrik Permen

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (22): Oleh Syafarudin Rahman PAGI masih gelap dan sepi usai salat subuh, kami berempat seperti biasa berbincang sambil menghirup segarnya oksigen yang...

Koruptor, Antara Diberantas Dan Dirawat

Oleh Syafarudin Rahman KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis 10 daerah provinsi dengan angka korupsi tertinggi sejak lima tahun terakhir, 2014 hingga 2019. Provinsi Lampung menempati...

RUU HIP Ditunda, Penunggang Kandas, Lovers Gagal

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (21): Oleh Syafarudin Rahman  PAGI masih gelap dan berembun usai salat subuh, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial),...

Iklan Lebay Milad Dan Jilat Pejabat

Opini Syafarudin Rahman, GUBERNUR Lampung Arinal Djunaidi, Presiden Soekarno dan Presiden Joko Widodo sama-sama lahir di bulan Juni. Mereka cuma beda tanggal dan tahun. Soekarno lahir...
Translate »