Prosesi penganugerahan gelar adat Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung kepada Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di Kedaton Keagungan, Bandar Lampung Sabtu 27 Juni 2026 menyita perhatian publik.
Bukan hanya karena kemegahan kain tapis dan khidmatnya upacara adat, tetapi juga lantaran Jokowi duduk di kursi adat Panca Haji dengan menginjak kepala kerbau yang diletakkan di bagian depan sebagai bagian dari tata cara pelantikan adat
Momen tersebut memunculkan beragam tanggapan di ruang publik. Namun, budayawan Lampung Anshori Djausal menegaskan prosesi tersebut tidak tepat dimaknai sebagai tindakan menginjak kepala kerbau.
"Jangan ditekankan kata-kata menginjak, seolah-olah menghina kerbau. Bahasanya bukan menginjak, tetapi menunjukkan bahwa dalam prosesi adat tersebut benar-benar dilakukan penyembelihan seekor kerbau," kata Anshori Djausal.
Menurut Anshori, kerbau sejak lama memiliki makna penting dalam tradisi masyarakat Lampung maupun sejumlah daerah di Sumatera sebagai simbol dalam berbagai tahapan adat.
Ia menjelaskan, pada masa lalu hampir setiap fase penting kehidupan masyarakat Lampung ditandai dengan penyembelihan kerbau, mulai dari kelahiran, memasuki usia dewasa, pernikahan hingga kenaikan tingkatan adat atau status sosial.
"Kalau seorang anak Lampung lahir, dulu disembelihkan satu kerbau. Menjelang dewasa satu kerbau lagi. Saat menikah satu kerbau. Ketika naik tingkatan adat juga ditandai dengan jumlah kerbau yang disembelih. Itu menjadi penanda status sosial seseorang," ujarnya.
Anshori menambahkan, kehadiran kepala kerbau dalam prosesi adat bukan berarti seluruh peserta wajib menginjaknya. Dalam sejumlah prosesi, kepala kerbau cukup dihadirkan sebagai simbol telah dilaksanakannya penyembelihan hewan tersebut.
"Tidak selalu harus diinjak. Yang ditekankan bukan menginjaknya, tetapi bahwa prosesi adat tersebut memang disertai penyembelihan seekor kerbau," jelasnya.
Menurutnya, kerbau dipilih karena sejak dahulu menjadi hewan ternak yang paling banyak dipelihara masyarakat Lampung dan wilayah Sumatera sehingga memiliki nilai simbolik dalam kehidupan sosial dan adat masyarakat.
"Orang Lampung dulu banyak memelihara kerbau. Tidak mungkin menggunakan gajah karena bukan hewan ternak. Di Toraja kerbau juga menjadi simbol utama dalam upacara adat, sementara di Bali dan Papua menggunakan babi sesuai tradisi masing-masing," katanya.
Anshori juga menjelaskan bahwa penyembelihan kerbau dalam adat Lampung bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari pesta adat yang kemudian dinikmati bersama oleh masyarakat dan tamu undangan.
"Dalam adat Lampung ada istilah Pangan Kibau, yaitu makan bersama setelah penyembelihan kerbau. Jadi bukan sekadar menyembelih lalu dibuang," ujarnya.
Ia berharap masyarakat dapat memahami makna filosofis di balik prosesi tersebut dan tidak hanya melihatnya dari potongan gambar maupun video yang beredar di media sosial.
Menurutnya, inti dari prosesi kepala kerbau dalam adat Lampung adalah simbol pelaksanaan adat, ungkapan rasa syukur, penghormatan, serta penanda kenaikan status sosial yang diwariskan secara turun-temurun dalam budaya masyarakat Lampung.
