Episode 32

DINAMIKA kontestasi pemilihan gubernur di Kawasan Pabrik Permen bertambah runyam. Bagi pemilik Pabrik Permen, kerunyaman yang terjadi bermuara pada persoalan bersikap untuk menentukan pilihan. Mengamankan dan mengembangkan bisnis atau sekaligus mengamankan cinta.

Hal yang demikian wajar saja menyeruak kepermukaan, walau masih terkanalisasi pada orang-orang tertentu. Hubungan mengamankan dan mengembangkan bisnis yang terkontaminasi oleh perasaan cinta, kerap menciptakan kerancuan, ketika sebuah kebijakan bisnis akan diputuskan. Orang bilang penuh conflict of interest.

Mengapa sampai terjadi? Entah dilatarbelakangi rasa bangga atau kejumawaaan, hampir tidak ada rahasia kedekatan Mbak Pur dan Juned yang tidak terumbar. Juned dengan bangga bertutur kepada banyak orang, betapa selama ini (sebelum pensiun) dirinya mendapat upeti secara rutin sebanyak 40 juta setiap bulan dari Mbak Pur. Langsung ditransper ke rekening penampungan pribadi. Belum lagi, dia mengaku sebagai pintu masuk hubungan kepentingan antara Syafrudin, penguasa lama dengan Mbak Pur.

“Gua yang jadi kunci kalau dia perlu apa-apa. Puluhan miliar melalui tangan gua,” celoteh Juned bangga kepada jajaran politisi Go-Kart.

Menanggapi ocehan Juned, para politisi yang melingkari meja bundar itu, kooor mengiyakan: “Dari dulu kita percaya dan tahu peranan dan kemampuan ketua.”

“Makanya gua nolak waktu Guntur minta jadi wakil Ronald. Yang bener aja, masak anak kecil bodoh itu mau ngatur-ngatur gua. Lebih baik nggak usah,” sergah Juned.

“Setuju ketua. Seperti yang ketua bilang, kita dukung. Bicarakan aja dengan Mbak Pur. Ubah posisi, sekalian kita perang,” timpal Yahudi, salah seorang petinggi Go-Kart.

“Sabar. Nanti gua liat kesempatan yang pas untuk bicara,” balas Juned.

Juned terbilang pandai memanfaatkan peluang yang ada. Penampilan keluguannya dengan bermodal kata Sabar dan menyitir hadist-hadist, membuat kalangan politisi Go-Kart terkecoh (pikir Juned). Padahal musang-musang lapar ini, mengitintip peluang sembari berupaya menanamkan rasa bahwa mereka bisa dipercaya.

Itulah kemudian, dengan bangganya Juned mengumbar catatan kecil dalam gadgetnya, pada tanggal 25 Desember 2011. “Suatu yang membuat aku bangga mencintai, adalah ketika aku mengetahui bahwa Mbak Pur juga sepenuh hati mencintai diriku.”

Sebenarnya Mbak Pur berkali-kali mengingatkan Juned: “Orang Go-Kart itu tak bisa dipercaya. Rakus, tukang tipu,” ujar Mbak Pur ketika Juned melaporkan bahwa jajaran Go-Kart sudah solid dalam kekuasaannya.

Nasi sudah terlanjur dibuat Bubur. Sudah menjadi rahasia publik, Juned didorong maju nyagub, bukan karena kemampuan yang dimilikinya. Lebih merupakan percampuran antara harapan mengamankan Pabrik Permen dan rasa cinta. Mbak Pur jadi liar bak babi terluka.

Sebenarnya Guntur, sebagai pebisnis yang matang, melihat realita kekinian, terkait posisi Juned menjelang kontestasi  sangat rasional. Justru rasa khawatir yang muncul dibenaknya. Elektabilitas tak pernah naik. Hanya tingkat popularitas yang merambat naik, itupun hanya dikalangan penikmat media massa (padahal golongan ini sangat rasional dalam menjatuhkan pilihan.Tidak terpengaruh oleh bius mobilisasi dan penampilan artis-artis yang mengumbar keseronokan).

Dalam pikiran Guntur bergelayut pertanyaaan, apakah keberpihakan mereka terhadap Juned akan menjadi malapetaka atau akan berjalan sebagaimana yang direncanakan. Mendapatkan kenyamanan bisnis, sekaligus mengendalikan kekuasaan? Faktor hubungan cinta Mbak Pur dan Juned, dikesampingkannya.

Bila merujuk pada hasil persekutuan partai-partai, Guntur meyakin Juned akan diusung tiga partai, diluar Go-Kart. Tetapi, bila melihat prilaku partai-partai dalam persekutuan, tak satupun partai yang mengarahkan pada kepastian. Apalagi hubungan persekutuan masih dalam taraf sepakat taksir-taksiran. Belum sampai pada komitmen konkrit untuk melakukan perkawinan, ijab-kabul. Kebimbangan bertambah, kini Go-Kart mengalami bencana. Puting beliung melanda pusat kekuasaan yang merembet menuju Go-Kart di Kawasan Pabrik Permen.

Bukan Guntur bila kehilangan akal (wong sudah biasa ngakal-ngakali orang). Disusunlah rencana, pertama, membuat surat keputusan (diberi tanggal mundur) untuk diteken Setan November dan Idris Marhaban. Kedua, memastikan keamanan dan komitmen dengan Idris Marhaban, Nusrodin, Oktober, bahwa perubahan apapun yang terjadi di pusat Go-Kart, Juned tetap sebagai calon gubernur. Berapapun ongkos yang harus dibayar. Ketiga, menjalin hubungan kembali dengan Ronald agar bersekutu dengan Pabrik Permen. Memanfaatkan tekanan hukum yang sedang menimpa Fahrul Tahiten, orang tua Ronald sedang dikuyo-kuyo pemilik lama Pabrik Permen. Keempat, merealisasi segera persekutuan bersama partai-partai yang ada untuk berikrar ijab-kabul.

Keempat skenario yang dirancang Guntur, belum bisa berjalan sempurna. Bahkan kemurkaannya ingin membeli petinggi-petinggi Partai Kutu Busuk dan Partai Gergaji,diumbar Juned kepermukaan. Kini jadi bumerang serius, bila tak terkelola secara baik. Sementara skenario menghempaskan Hermanus (karena menjadi pesaing berat) dengan memasangkan Juned dan Pak Ogah melalui Partai Daun Itunya Pepaya masih tersendat oleh goyang dombret Ronald dan Pak Ogah yang memasang posisi ceki nokang.

Ditengah kasak-kusuk menjalankan skenario, muncul persoalan terkait eksistensi Pabrik Permen. Unjuk rasa masyarakat menuntut hak mereka bergelora di jalan-jalan. Juga muncul tuntutan serupa, baik melalui jalur hukum (pengadilan) ataupun jalur politik di lembaga wakil rakyat. Bahkan, hasil termuan Pansus Pabrik Permen, sudah sampai ke meja pimpinan wakil rakyat di pusat kekuasaan. Ini semua dikelola dari kejauhan oleh Ronald dan Mustajab.

Siapa menabur angin, dia menuai badai. Didepan mata hadir sebuah permainan politik, hukum, dan ekonomi yang beresiko cukup besar. Tidak semudah mengucapkan atau membalikkan telapak tangan untuk meredamnya. Tidak juga hanya sebatas gelontoran uang. Dewa-dewa kekuasaan sedang mengincar. Siapa yang bisa meredam? Semua gara-gara bercampurnya sikap keangkuhan dan rasa cinta yang dalam. (d)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here