Bagi kamu yang sedih dan muak dengan kondisi pesisir Kota Bandarlampung (Balam) yang penuh sampah, kamu tidak sendirian.

Yuk, kita sama-sama berkolaborasi dan bersinergi untuk menyatukan opini, ide, serta gerakan Retorika Sampah guna mengatasi persoalan sampah Pesisir Bandarlampung.

Bebunyian bernada menggugat sekaligus menggugah di atas beredar di sejumlah platform jejaring media sosial di Lampung, sepanjang pekan ini.

“Saatnya kita berbaur dan berdaur bersama demi kelangsungan hidup yang lebih baik,” sambung kampanye publik bertajuk Retorika Sampah itu.

Terungkap, gerakan sosial menggugat fakta parahnya kerusakan ekosistem lingkungan hidup pesisir akibat belenggu sampah menggugah kesadaran kolektif dan tindakan nyata massa rakyat untuk lebih peduli serta berkomitmen menyatakan perang terhadap sampah.

Jurnalis/pewarta foto Ferdy Awed, inisiator kegiatan bertajuk unik “Retorika Sampah: Berbaur, Berdaur” ini mengajak rekan-rekan untuk berkolaborasi. “Campur baur, berembuk” pada Sabtu (15/2).

Hingga Jumat petang (14/2), sedikitnya 30 komunitas telah menyatakan akan hadir, siap berkolaborasi pada pertemuan pertama di Kedai Kopi Street Art Kopi Pai, Jl .Juanda 8, Kelurahan Rawalaut, Kecamatan Enggal, Kota Bandarlampung.

Komunitas lintas generasi lintas profesi di Lampung itu berencana menghimpun diri, berkolaborasi dan bersinergi melakukan gerakan sosial penanggulangan sampah terutama di zona pesisir pantai di Lampung.

Ferdy, mantan jurnalis foto Tribun Lampung yang kini bekerja untuk kantor berita AFP itu merincikan, yakni komunitas pengampu ‘Ocean Rangers’ Gajahlah Kebersihan, Earth Hour Lampung, Lampung Sweeping Community/LSC, pegiat kampanye sanitasi aman Youth with Sanitation Concern (YSC), dan komunitas grafiti Lampung Street Art.

Lalu, komunitas fotografi GeoNusantara Lampung, UKM Fotografi Zoom Unila, UKM Fotografi Blitz, Analog Lampung, Jaringan Perempuan Padmarini, Yayasan Konservasi Way Seputih/YKWS, Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, dan Gebyar Pelajar Lampung/GPL.

Juga, komunitas pecinta alam UKM Artala IIB Darmajaya, UKM Mahasiswa Raden Intan Pecinta Alam/Maharipal, Forum Mahasiswa Peduli Kependudukan/FMPK UIN Raden Intan Lampung, Himpunan Mahasiswa Kehutanan/Himasylva Faperta Unila, World Wide Fund for Nature/WWF Lampung, dan LSM Watala Lampung.

Berikutnya, komunitas Relawan Nusantara Lampung, Asosiasi Dokumenteris Nasional/ADN Lampung, Repong Indonesia, Halus Kasar Cycling, Ikatan Muli Mekhanai Kota Bandarlampung/Imkobal, dan Klinik Utama Sai Bumi.

Didukung jejaring pers Serikat Media Siber Indonesia/SMSI Lampung, Saibumi.com, MetroTV Lampung, Saburai TV, Net.brain, Senator.id, dan Einstein.ID.

Sabtu, bertambah Seniman Lampung Peduli/SELPI, Tandem, Yayasan Penyuluhan Kanker Indonesia/YPKI Lampung, UKM Rumah Film KPI Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung, Mahasiswa Hukum Sayangi Alam/Mahusa FH Unila, Mahasiswa Teknik Sipil FT Unila, Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat/Almisbat Lampung, CeDPPIS, Kejarfakta.co, dan Kliksumatera.com.

Ditanya target kegiatan, Ferdy, alumnus Sosiologi FISIP Unila, menjawab. “Besok (hari ini, red) itu baru akan dibentuk panitia dan programnya. Nanti dipaparkan di lokasi,” ujar dia bikin penasaran.

Ia menekankan, aktivitas nantinya bukan hanya sebatas aksi bersih-bersih pantai. “Skupnya lebih besar dari bersih pantai, karena kalo cuma bersih bersih, mau sampe kapan,” sahutnya bertanya, nun menegaskan.

Sidang Pembaca RMOLLampung.id, minat bergabung? [Muzzamil]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here