Karya anak-anak berkebutuhan khusus dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Asih Budi, Jakarta Timur, mendapat panggung di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.
Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, memperkenalkan batik ciprat hasil karya para siswa tersebut melalui foto yang diambil di halaman Markas PBB, tepat di samping neon sign Sustainable Development Goals (SDGs).
Bagi Teguh, batik ciprat itu bukan sekadar produk kerajinan, melainkan pengingat bahwa agenda pembangunan global juga harus memberi ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan kesempatan hidup mandiri.
“Insya Allah, Sustainable Development Goals (SDGs) yang dirumuskan PBB juga mencakup kebutuhan akan pendidikan berkualitas bagi mereka dan membuka akses mereka pada kehidupan yang layak dan membantu mereka tumbuh menjadi insan yang mandiri,” tulis Teguh dalam unggahan di akun Facebook miliknya.
Batik ciprat merupakan karya tekstil yang dibuat dengan teknik memercikkan malam atau lilin batik ke permukaan kain. Teknik tersebut menghasilkan pola abstrak yang khas pada setiap kain.
Teguh sengaja memilih latar SDGs untuk memperlihatkan hubungan antara karya anak berkebutuhan khusus dan agenda pembangunan berkelanjutan yang disepakati masyarakat internasional.
SDGs merupakan agenda pembangunan global yang disusun PBB pada 2015 dan disepakati oleh 193 negara. Agenda tersebut memuat 17 tujuan pembangunan yang ditargetkan tercapai pada 2030, dengan prinsip utama No One Left Behind atau tidak seorang pun tertinggal.
Tujuan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pengentasan kemiskinan, kesehatan, pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pengurangan kesenjangan, hingga pembangunan kota dan komunitas berkelanjutan.
Melalui batik ciprat karya siswa SLB Asih Budi, Teguh berharap perhatian terhadap pembangunan global tidak berhenti pada agenda ekonomi dan lingkungan, tetapi juga mencakup pemenuhan hak serta pengembangan potensi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Semoga dengan ‘memamerkan’ Batik Ciprat ini dapat membangun awareness kita pada tujuan-tujuan pembangunan global yang meliputi berbagai aspek penting dalam kehidupan umat manusia. Termasuk mereka, anak-anak kita yang berkebutuhan khusus,” tulisnya.
Teguh saat ini berada di New York untuk berbicara sebagai petisioner terkait isu sengketa Sahara Maroko dalam Komite IV PBB, yang membidangi persoalan politik khusus dan dekolonisasi.
Partisipasi tersebut menjadi kali keempat Teguh terlibat dalam pembicaraan terkait isu tersebut.
Melalui pesan yang dibawanya, Teguh mengajak masyarakat melihat karya anak berkebutuhan khusus sebagai bagian dari upaya memperluas kesadaran tentang pendidikan inklusif, kesempatan yang setara, dan pembangunan yang melibatkan semua kelompok masyarakat. 
