23.8 C
Bandar Lampung
Jumat 5 Juni, 2020 23:55 WIB
Beranda PERISTIWA Barongsai Atraksi Di Depan Vihara Thay Hin Bio Malam Imlek 2570 Kongzili

Barongsai Atraksi Di Depan Vihara Thay Hin Bio Malam Imlek 2570 Kongzili

RMOLLampung. Atraksi barongsai rutin digelar di depan Vihara Thay Hin Bio, Telukbetung, Kota Bandarlampung, Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili (2019 Masehi), Senin malam (4/2).

Barisan lampu lampion warna merah yang melintang di atas jalan depan vihara, Jalan Ikan Kakap, semakin memeriahkan kawasan pusat toko oleh-oleh Kota Bandarlampung pada malam Tahun Baru Imlek 2019.

Gong xi fa cai,” ucapan yang kerap terdengar pada malam pertujukan tersebut.

Setiap digelar atraksi barongsai, warga dari berbagai sudut Kota Bandarlampung antusias menyaksikannya. Gerakan-gerakan barongsai, salto, lompat, dan lainnya disertai suara musik penggiringnya, daya tarik bagi warga.

Penonton luber hingga ke Jalan Ikan Tenggiri dan Jalan Ikan Hiu menyaksikan berbagai aktraksi barongsai. Sang singa meniti tiang hingga dua meter untuk menggapai angpau, amplop merah berisi uang.

Dengan mata mendelik dan kepala ke kiri dan ke kanan, barongsai warna merah memeroleh aplus penonton ketika berhasil menggapai angpau terakhir. Penonton mengabadikan momen tersebut dengan ponselnya.

Kapolda Lampung Irjen Purwadi Arianto bersama dengan Forkopimda Lampung sempat memastikan kondisi keamanan pageran barongsai ke Vihara Amurwa Bhumi dan Thai Hin Bio.

Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) mengajak umatnya untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili (2019 Masehi) dengan kesederhanaan.

“Hakikat Imlek bukan untuk pesta pora apalagi hura-hura, ini momentum refleksi diri,rbanyak ibadah, lebih peduli sesama manusia,” kata Ketua Umum Matakin Budi Santoso Tanuwibowo di Jakarta, Selasa (5/2).

Dia mengatakan kepedulian terhadap sesama itu selaras dengan tema Imlek tahun ini yaitu : Penimbunan Kekayaan akan Menimbulkan Perpecahan di antara Rakyat, Tersebarnya Kekayaan akan Menyatukan Rakyat.

Menurut dia, penting bagi umat Khonghucu selalu berbagi seiring masih banyaknya orang yang perlu dibantu. Budi mengatakan pembangunan memang membawa kemajuan tapi tetap saja akan ada ketimpangan.

Terkait keharmonisan umat beragama dalam berbangsa dan bernegara, dia berharap agar masyarakat semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan karena dalam skala tertentu terdapat gesekan karena berbeda.

Lebih baik, kata dia, mencari persamaan-persamaan daripada membesar-besarkan perbedaan yang bisa kontraproduktif terhadap keharmonisan.

“Agama itu memanusiakan manusia. Terlepas dari apapun agama ini harus memiliki kadar kemanusiaan. Jangan mentang-mentang karena satu agama kemudian yang salah kita bela, yang benar dari agama lain tidak kita bela,” kata dia.
Kesenian Barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi.

Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda hingga sekarang.

Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat, dan Singa Selatan yang bersisik dan bertanduk. Penampilan singa Utara lebih mirip singa karena berbulu tebal, bukan bersisik.

Di Indonesia, singa utara biasa disebut peking sai. Singa utara memiliki bulu yang lebat dan panjang berwarna kuning dan merah. biasanya singa utara dimainkan dengan dua singa dewasa dengan pita warna merah di kepalanya yang menggambarkan singa jantan, dan pita Hijau (kadang bulu hijau di kepalanya) untuk menggambarkan Singa Betina.

Pekingsai dimainkan dengan Akrobatik dan Atraktif, seperti berjalan di tali, berjalan di atas bola, menggendong, berputar, dan gerakan-gerakan akrobatis lainnya. Tidak jarang juga, Pekingsai dimainkan dengan anak singa, atau seorang ‘pendekar’ yang memegang benda berbentuk bola yang memimpin para Singa. Biasanya, sang pendekar melakukan beberapa gerakan-gerakan beladiri Wushu.

Konon, pada jaman dahulu, atraksi Pekingsai digunakan untuk menghibur keluarga kerajaan di istana Tiongkok.

Singa selatan inilah yang sering kita lihat, atau kita sebut barongsai. Singa selatan lebih ekspresif dibanding singa utara.

Singa selatan memiliki berbagai macam jenis. Singa yang memiliki tanduk lancip, mulut seperti bebek, dahi yang tinggi, dan ekor yang lebih panjang disebut fut san (juga disebut fo shan, atau fat san).

Sedangkan singa yang memiliki mulut moncong ke depan, tanduk yang tidak lancip, dan ekor yang lebih kecil disebut hok san. Keduanya diambil dari nama tempat di Tiongkok.

Barongsai futsan dimainkan dengan kuda-kuda dan gerakan yang lebih memerlukan tenaga. Barongsai futsan biasanya dimainkan didalam kategori barongsai tradisional.

Kuda-kuda dan gerakan barongsai hoksan lebih santai daripada barongsai futsan. Barongsai futsan biasanya digunakan di sekolah-sekolah kungfu, dan hanya murid terbaik yang dapat menarikannya. [hms]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Bantuan PKH Dan BPNT Di Pekon Sukaraja Semaka Carut Marut

 Carut marut terjadi dalam penyaluran Bantuan Kesejahteraan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)...

Tak Ada Yang Gratis, Rapid Test Pelaku Perjalanan Dinas Dibayari Pemerintah

 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana, membenarkan rapid test harus bayar Rp 350 ribu. Ia...

Rapid Test Di Diskes Lampung Bayar Rp 350 Ribu

 Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Lampung yang juga wali santri, mengeluhkan biaya rapid test yang terlalu...

Gempa Tektonik 4,9 SR Di Lepas Pantai Kabupaten Pesisir Barat

Gempa tektonik berkekuatan 4,9 scala richter (SR) menggetarkan Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung,Jumat (5/6), pukul 11.04 WIB. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG),...
Translate ┬╗