28.4 C
Bandar Lampung
Rabu 3 Juni, 2020 11:23 WIB
Beranda OPINI Ayo Katakan, Kita Tidak Takut Corona

Ayo Katakan, Kita Tidak Takut Corona

Oleh Riski Tuan Abda’u

PERADABAN manusia seluruh dunia sontak terguncang dengan kemunculan wabah virus mematikan: virus corona (mahkota) atau Covid-19.

Virus tersebut mendadak terkenal karena telah membunuh ribuan manusia secara senyap, tak meninggalkan jejak.

Aksinya seperti impian tertinggi para pembunuh bayaran berdarah dingin, mengerikan, sadis, dan belum bisa diringkus, masih bebas berkeliaran bak pembunuh berantai.

Laboratorium di Wuhan, China, tempat virus ini lahir mengklaim bahwa virus ini keluar lalu hinggap di tubuh beberapa hewan kemudian mewabah dengan cepat ke manusia satu dan lainnya.

Anehnya musibah serupa pernah terjadi berulangkali dengan skenario, akibat, dan pemeran yang sama persis, lagi-lagi: virus.

Saya seperti menonton film luar negeri yang didaur ulang oleh sutradara minim ide tapi inginkan hasil efektif, memalukan sekaligus menakutkan.

Pikiran saya mengarahkan pada pertanyaan: Apa alasan ilmuan menjaga virus corona jika itu mematikan?

Kenapa ia dengan mudahnya ‘kabur’ dari tempat yang semestinya penuh dengan teknologi mutakhir penangkal virus itu?

Sebagai manusia berakal keturunan Nabi Adam yang dianugerahi rasa ingin tahu tinggi, jawaban mulai terurai ketika dosen pembimbing saya membagikan novel lawas karya Dean Koontz.

Novel itu berjudul The Eyes of Darkness yang terbit pada Februari 1981menuliskan lengkap nama sang ilmuan yang memperingatkan bahaya virus corona ini beserta dengan tahun, tempat, dan akibat penyebarannya.

Saya tidak begitu yakin kalau dia adalah seorang peramal sakti atau bahkan penjelajah waktu.

Dugaan saya, sejalan dengan tulisan Koontz, corona mungkin sebagai senjata biologis pemusnah masal, pembunuh yang kebal hukum di negara manapun dan sama sekali tak bisa diadili.

Alih-alih mengungkap fakta tentang penemu virus ini dan alasan pembuatan/penelitiannya, semua negara telah dibuat kalang-kabut ketakutan karena dampaknya, termasuk Indonesia.

Rasa abai yang sebelumnya cukup besar dengan virus corona perlahan berubah menjadi waspada, terus bertambah hingga peringatan bahaya.

Ketakutan itu terus hinggap di pikiran-pikiran manusia yang begitu takut meninggalkan dunia.

Segala upaya ditempuh masyarakat agar tak terjangkit, harga pelidung pernapasan melonjak tinggi, pembersih instan langka, dan banyak lagi perbuatan yang tidak salah namun berlebihan.

Ketakutan akan sebuah bentuk ciptaan (materi) mulai menggiring umat manusia untuk menipiskan nilai tauhid dan membatasi interaksi sosial.

Ketakutan hakiki yang sebenarnya tertuju hanya pada Tuhan yang Maha Esa lambat laun bisa saja tergantikan dengan virus itu.

Seakan-akan tindakan manusia lebih dipercaya ketimbang berdoa kepada “Yang Maha Kuasa”.

Manusia dengan keimanan dan daya pikir kuat harusnya terpatri di alam bawah sadarnya bahwa kematian tidak ditentukan oleh materi melainkan murni rahasia Ilahi.

Bersama dengan rasa kesal, sedih, dan jengkel yang bercampur-aduk, saya ingin sampaikan bela sungkawa untuk korban corona dan instansi-instansi yang amat sangat berlebihan dalam mengambil keputusan!

Betapa tidak, upaya preventif malah diterjemahkan dengan larangan-larangan nyeleneh.

Interaksi sosial kemasyarakatan dikhawatirkan menjadi media penyalur virus karena bertatap muka, berbincang, atau bersalaman.

Akibatnya, momentum berkumpul, berdiskusi, seminar, kuliah umum, wisuda, atau pertemuan lainnya harus batal seketika dengan berbagai edaran yang kurang masuk akal.

Sikap atau keputusan itu bisa dibenarkan jika dan hanya jika saat dipenuhi rasa takut, bingung, dan pikiran seolah tahu kapan virus itu akan menghilang.

Keputusan penundaan suatu acara mustahil membuat penyebaran virus corona terhenti!

Rencana manusia tidak mungkin melampaui keputusan Allah Yang Maha Pemberi Kesembuhan dan satu-satunya tempat berlindung.

Pemerintah dan instansi yang berisikan manusia berintelektual berketuhanan harusnya tidak ‘membeli ketakutan’ yang dijual bebas gratis sepaket dengan virus mematikan itu.

Rasa takut dan kelimpungan yang ada di seluruh dunia mungkin salah satu tujuan mengobrak-abrik tatanan masyarakat beragama.

Pemerintah sebenarnya cukup melakukan upaya penyediaan fasilitas dan edukasi tentang cara mencegah penyebarannya.
Instansi pendidikan tak perlu mengekang giat mahasiswa.

Pemuka agama dan umatnya harus menyebarkan pemikiran positif dan selalu optimis dengan memohon kepada Tuhan agar corona segera dimusnahkan.

Organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, pelajar, dan penggiat media sosial, stop menyebarkan ketakutan.

Ayo kuatkan iman dan beranilah katakan: Kita Tidak Takut Corona!

(*) Mahasiswa Pertanian Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Pasien Covid-19 Tidak Menularkan Virus Corona Setelah 11 Hari

                                                  Pasien Covid-19 tidak lagi menularkan virus corona setelah 11 hari mengidap penyakit tersebut. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Pusat...

H+1 Lebaran Corona Capai 22.750, Sembuh 5.642, Meninggal 1.391 Orang

 Penambahan kasus positif virus corona baru atau Covid-19 pada H+1 Lebaran hari ini mengalami peningkatan signifikan.Berdasarkan data yang...

Lodewijk dan Ririn Kembali Bagi APD Dan Sembako Ke Warga Metro

 Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai Golkar Lodewijk F Paulus kembali memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat di Kota Metro, Kamis (16/4).

MUI Pusat: Mati Sahid, Pemakaman Korban Covid-19 Tidak Boleh Ditolak

 Masyarakat kembali diingatkan untuk tidak menolak pemakaman jenazah korban wabah penyakit, termasuk Covid-19. Pemakaman jenazah...
Translate »