Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membawa tantangan baru bagi perguruan tinggi. Teknologi seperti ChatGPT dapat membantu pekerjaan akademik, namun juga berisiko menurunkan kualitas kinerja dan mengganggu integritas keilmuan jika tidak digunakan secara tepat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Workshop Kepemimpinan bagi dosen dan tenaga kependidikan (tendik) muda Universitas Lampung (Unila) di Ruang Sidang Utama lantai dua Gedung Rektorat Unila, Kamis (17/9/2026).
Dosen Universitas Negeri Jakarta sekaligus mantan Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti, Mohammad Sofwan Effendi, yang menjadi narasumber, mengatakan AI memiliki dua sisi dalam perkembangan sumber daya manusia di perguruan tinggi.
Menurutnya, AI dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja. Namun, penggunaan yang tidak tepat justru dapat membuat kemampuan manusia semakin bergantung pada teknologi.
Sofwan menyoroti fenomena ketika dosen memberikan tugas yang dapat dikerjakan menggunakan AI, sementara mahasiswa juga mengandalkan teknologi serupa untuk menyelesaikannya.
Kondisi tersebut, menurut dia, membuat perguruan tinggi perlu memperkuat integritas akademik dan etika keilmuan di tengah masifnya penggunaan AI.
“AI dapat dimanfaatkan untuk membantu automation workflow dan mendukung critical thinking. Tetapi analisis utama tetap harus berada di tangan manusia,” ujar Sofwan dalam pemaparannya.
Ia mengingatkan, AI juga memiliki keterbatasan karena dapat menghasilkan informasi maupun referensi yang tidak akurat atau bersifat hallucination. Karena itu, setiap informasi yang dihasilkan teknologi tersebut tetap membutuhkan verifikasi dan penilaian manusia.
Sofwan menilai kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi menjadi faktor penting untuk memastikan pemanfaatan AI tetap berada dalam koridor etika akademik.
Peran tersebut tidak hanya berada di tingkat pimpinan universitas, tetapi juga fakultas dan unit kerja dalam membangun tata kelola pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila, Habibullah Jimad, yang membuka kegiatan mewakili Rektor Unila, menekankan pentingnya kesiapan dosen dan tendik muda menghadapi perubahan dunia pendidikan tinggi.
Habibullah mengatakan penguatan kapasitas kepemimpinan perlu dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri atau self-leadership sebelum seseorang memimpin orang lain.
Dalam materinya bertajuk “Penguatan Kapasitas Manajerial untuk Mewujudkan Unila Unggul dan Berdampak Berlandaskan Nilai-Nilai Unila BE STRONG”, ia juga mengingatkan perubahan pola hubungan antara dosen dan mahasiswa di era digital.
Mahasiswa saat ini dapat mengakses informasi dari berbagai sumber digital dengan cepat. Kondisi tersebut menuntut dosen tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memperkuat literasi humanistik, kemampuan berpikir kritis, dan analisis.
“Hari ini, eranya sudah berbeda dengan masa lalu saat kami baru menjadi dosen muda. Mahasiswa kini dapat memperoleh informasi dari berbagai macam sumber digital, sehingga terkadang mereka tampak lebih menguasai informasi. Namun, di sinilah peran penting literasi humanistik, critical thinking, dan analytical thinking yang harus terus kita kembangkan,” ujar Habibullah.
Selain tantangan teknologi, Unila juga membekali peserta dengan materi pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi yang disampaikan Kepala UPA BK, Prof Novita Tresiana.
Habibullah turut mengingatkan pentingnya menjaga integritas dalam menjalankan tugas. Menurutnya, potensi pelanggaran tidak selalu muncul karena niat, tetapi dapat terjadi ketika terdapat celah dan kesempatan.
Workshop tersebut diikuti dosen dan tendik muda Unila sebagai bagian dari upaya menyiapkan kader pemimpin yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan kerja dan perkembangan teknologi.
Melalui kegiatan ini, Unila mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia, penyelarasan tugas fungsional dan struktural, sekaligus pembentukan calon pemimpin kampus yang profesional, adaptif, dan berintegritas. 
