Keluarga para nelayan kembali aksi menuntut pemulangan rekan mereka yang ditangkap Tekab 308 Polres Lampung Timur pascapembakaran kapal penyedot pasir laut dekat Pulau Sekopong, Kabupaten Lampung Timur.

Mereka yang didominasi emak-emak mengusung poster yang ditulis pakai spidol hitam di atas kertas karton putih dengan berbagai tuntutan mereka kepada pihak kepolisian di Pos Kuala Penet, Kantor Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Minggu (15/3).

Poster-poster yang diusung emak-emak bertuliskan: Pembakaran kapal penyedot pasir murni gerakan masyarakat, bukan oleh provokator.

Pesan poster yang langsung ditujukan kepada pihak kepolisian: Polisi jangan asal tangkap, buat berita yang benar, jangan buat resah nelayan.

Lainnya, Lepaskan Bang Rizal, dia bukan provokator, pak pol ojo keblinger.

Para emak-emak mengusung poster tuntutan pembebasan Rizal/Foto Edi Arsadad

Mereka juga mempertanyakan keberpihakan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi terhadap nasib nelayan yang resah sejak berkeliarannya kapal penyedot pasir di perairan tangkapan ikan dan rajungan nelayan.

Dua hari sebelumnya, Jumat (13/3), sekitar 150 nelayan dan keluarganya juga aksi menuntut pemulangan rekan mereka yang ditangkap Tekab 308 Polres Lampung Timur .

Mereka berkumpul di halaman rumah Rizal alias SAF sambil memberikan dukungan kepada keluarganya.

Wahyu, kepala Desa Margasari, mengatakan berdasarkan keterangan istri Rizal, suaminya dibawa sekelompok orang bersenjata laras panjang dari jalan.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad yang menjelaskan bahwa mereka adalah Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) 308 Polres Lampung Timur.

Emak-emak saat aksi/Foto Edi Arsadad

Tim tersebut memang dilengkapi senjata api laras pendek dan panjang, ujar Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu (14/3).

Namun, saat mengamankan SAF, senjata api laras panjang V2 Pindad dalam posisi pasif, tidak dalam posisi larasnya ke arah atau ditodongkan ke SAF.

Sebelum pengamanan, Katim Tekab 308 Polres Lampung Timur melakukan komunikasi agar SAF secara sukarela  bersedia dimintai keterangan di Polres Lampung Timur.

Petugas membawa SAF disaksikan istri,  tiga anaknya, serta ibunya.

Tekab 308 Pokres Lampung Timur membawa nelayan dari Desa Margasari, Kuala Penat, Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Kamis (12/3), pukul 17.45 WIB.

Wahyu, kepala Desa Margasari, mengatakan berdasarkan keterangan istri SAF,  dibawa dari jalan di Desa Mendala Sari, Matarambaru, Kabupaten Lampung Timur.

Warga kembali resah sejak kedatangan kapal penyedot pasir milik PT Sejati 555 Sampurna Nusantara (SSN) ke area tangkapan ikan dan rajungan para nelayan sejak pekan lalu.

Dua hari mengabaikan peringatan para nelayan agar kapal penyedot pasir keluar perairan sekitar Pulau Sekopong, para nelayan ramai-ramai berinisiatif menghampiri dan membakar kapal penyedot pasir tersebut.

PT Sejati 555 Sampurna Nusantara mengerahkan empat kapal pengeruk pasir ke lokasi: kapal tongkang, kapal tagboat (penarik tongkang), kapal penyedot pasir, dan kapal kasko.

Sekitar 27 nelayan naik dua kapal mendatangi kapal yang telah bersiap menyedot pasir di kawasan perairan tangkapan nelayan dekat Pulau Sekopong, Sabtu (7/3).

Abdurahman, warga setempat kepada Kantor Berita RMOLLampung, Minggu (8/3), mengatakan bertindak seperti itu

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here