Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan kian mengkhawatirkan. Jumlah titik panas meningkat menjadi 1.917 titik pada Senin (12/10/2026), dari sehari sebelumnya sebanyak 1.548 titik. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, mencapai 1.271 titik.
Tak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan, karhutla juga berdampak pada kualitas udara. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan kualitas udara di Palembang dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) telah masuk kategori Berbahaya.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel yang diperbarui pukul 09.00 WIB, Musi Banyuasin menempati posisi kedua dengan 218 titik panas, disusul Banyuasin sebanyak 181 titik.
Titik panas lainnya terdeteksi di Muara Enim sebanyak 89 titik, Ogan Ilir 55 titik, OKU Timur 42 titik, OKU Selatan 17 titik, dan OKU 15 titik. Sementara itu, Musi Rawas mencatat sembilan titik, PALI delapan titik, Musi Rawas Utara tujuh titik, dan Lahat lima titik.
Besarnya konsentrasi titik panas di OKI juga tercermin dalam laporan kejadian kebakaran. Pada Minggu (11/10), BPBD Sumsel mencatat 62 kejadian karhutla, dengan 24 kejadian di antaranya berlangsung di OKI.
Musi Banyuasin menyusul dengan 12 kejadian dan Ogan Ilir sebanyak 10 kejadian. Banyuasin mencatat enam kejadian, Muara Enim dan Palembang masing-masing tiga kejadian, Lubuklinggau dua kejadian, serta OKU Timur dan PALI masing-masing satu kejadian.
Dari total perkiraan lahan terdampak seluas 278,75 hektare, satgas darat telah menangani kebakaran di area seluas 271,85 hektare. Masih terdapat sekitar 6,90 hektare lahan yang belum berhasil dipadamkan.
Secara kumulatif, BPBD Sumsel mencatat 95.548 titik panas sejak Januari hingga 11 Oktober 2026. Lonjakan terjadi pada September dengan 44.715 titik, setelah pada Agustus tercatat 17.088 titik. Sementara itu, laporan Oktober mencatat 28.833 titik hingga periode pelaporan.
Kualitas Udara Palembang dan PALI Berbahaya
Dampak karhutla semakin terasa dari memburuknya kualitas udara di sejumlah daerah. Data ISPU untuk parameter PM2.5 yang diperbarui Senin pukul 09.00 WIB mencatat Palembang berada di angka 427 dan PALI 369. Keduanya masuk kategori Berbahaya.
Prabumulih mencatat angka 286 dan Musi Rawas 240, yang masuk kategori Sangat Tidak Sehat. Adapun Musi Banyuasin berada di angka 178, Ogan Ilir 161, dan Lahat 137 atau kategori Tidak Sehat. Muara Enim mencatat angka 74 dengan kategori Sedang.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, dan warga dengan gangguan pernapasan. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar, serta mengikuti perkembangan kualitas udara melalui sumber resmi.
Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang Bandara
Kabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang. Berdasarkan data Aviation BMKG, jarak pandang pada Senin pukul 06.00 WIB tercatat hanya 700 meter.
Jarak pandang meningkat menjadi 750 meter pada pukul 06.30 WIB dan 1.100 meter pada pukul 07.00 WIB. Angka tersebut sempat mencapai 2.000 meter pada pukul 07.30 WIB, sebelum kembali turun menjadi 1.500 meter pada pukul 08.00 WIB.
Pada pukul 08.30 hingga 09.00 WIB, jarak pandang tercatat sekitar 1.400 meter. Kondisi ini menunjukkan kabut asap masih menjadi tantangan bagi aktivitas penerbangan, khususnya pada pagi hari.
Untuk mendukung penanganan karhutla, operasi modifikasi cuaca (OMC) dilaksanakan pada Minggu menggunakan pesawat Cessna PK IKC yang beroperasi dari Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang.
Penyemaian dilakukan di wilayah Banyuasin dan OKI pada pukul 14.34 hingga 16.36 WIB dengan menggunakan 800 kilogram natrium klorida (NaCl).
Sementara itu, tabel operasi pemadaman udara pada hari yang sama mencatat lima pesawat berstatus no flight, yakni RA-22477, UR-CBH, RA-22747, RA-22279, dan UR-VBC.
OKI Jadi Prioritas Penanganan
BPBD Sumsel memprioritaskan penanganan karhutla di sejumlah kecamatan di OKI, meliputi Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, Pampangan, Pedamaran, Pedamaran Timur, Air Sugihan, Cengal, dan Sungai Menang.
Di Kabupaten Muara Enim, penanganan difokuskan di Kecamatan Gelumbang. Sementara di Musi Banyuasin, petugas menyasar Bayung Lencir, Desa Mangsang, Muara Merang, Kecamatan Lalan, dan Desa Karang Agung.
Di Banyuasin, lokasi penanganan meliputi Talang Kelapa, Tanjung Lago, Rambutan, dan Muara Padang. Adapun di Ogan Ilir, petugas berfokus di Kecamatan Indralaya Utara dan Pemulutan.
Sementara di Palembang, penanganan dilakukan di Sematang Borang, Alang-Alang Lebar, Kertapati, Jakabaring, Sukarami, dan Talang Jambe.
Tingginya jumlah titik panas, luas lahan terdampak, serta memburuknya kualitas udara menjadi tantangan dalam penanganan karhutla di Sumsel. Upaya pemadaman dan pemantauan perlu terus dilakukan, terutama di OKI yang mencatat konsentrasi titik panas tertinggi. 
